Sabtu, 05 Maret 2016

# Serba-Serbi

HARAP WASPADA!! AWAS PENIPUAN!!

Haiii semuanyaaa....
Ketemu lagi kitaaaa....
Sebelum memulai cerita, ijinkan aku untuk mengucap syukur alhamdulillah karena modem wifi rumah udah kembali sehat wal afiat lagi. Udah bisa dipake untuk internetan, ngeblog, main sosmed, dan ngepoin mantan gebetan. #eh.

Sebenernya modem wifinya udah sehat lagi beberapa jam setelah aku nulis tulisan ini. Tepatnya sekitar jam 2 siang. Sebelumnya ada bapak-bapak teknisi yang dateng ngecek dan ngebenerin sambungan wifinya. Gak lama setelah dicek dan dibenerin udah bisa lagi modemnya. Alhamdulillah.... :D
Semoga abis ini gak ada kejadian mati-mati lagi... :D

Okay....
Sekarang mari kita mulai ceritanya!

Jadi ceritanya, dua hari yang lalu saat aku lagi ngebete-in si modem wifi yang gangguan, mati gak bisa dipakai ternyata di luar sana ayahku hampir aja jadi korban penipuan. Laahhh kok bisaaa...??


Tahun 2016 ini ayahku memasuki masa pensiunnya sebagai PNS. Tepatnya di bulan Januari kemarin. Sama seperti PNS-PNS lainnya yang memasuki masa pensiun, ayahku pun mengurusi berkas-berkas yang berhubungan dengan kepensiunannya. Berkas-berkas itu nantinya akan diserahkan ke dinas terkait (kebetulan ayahku adalah seorang guru maka berkas diserahkan ke Dinas Pendidikan) untuk pelaporan kepensiunan.

Sebenernya (sepengelihatanku) di pertengahan Februari kemarin ayahku udah mengurus berkas-berkas pensiunnya itu. Cuma entah kenapa dua hari yang lalu ayahku balik sibuk lagi mengurusi berkas-berkas pensiunnya itu. Ditambah dengan pertanyaan aneh ke Ibu, "apa punya simpenan uang?"

Aku sendiri sih pada awalnya gak tahu masalah ini. Baru tahu itu pas lagi enak-enak blogwalking (sambil ngetes modem yang baru aja bisa nyambung lagi) Ibu cerita tentang kecurigaan beliau ke ayah yang nanyain tentang simpenan uang.

Ehh ternyata pas sore harinya ayah pulang, beliau cerita kronologi kejadiannya.

Sekitar jam 10 pagi ayah ditelepon sama nomer yang gak kenal di HP-nya. Pas diangkat, si penelepon bilang dia bernama Mutholib Kepala Dinas Pendidikan Jombang. Si penelepon mengatakan bahwa ayah akan mendapatkan hadiah dari Kepala Dinas Pendidikan sebagai tanda jasa pensiun. Untuk bisa mendapatkannya ayah diminta untuk mempersiapkan fotokopi KTP, KK, dan entah fotokopi-fotokopi apalagi yang gak bisa aku inget rinci yang sepenjelasan ayah itu sama dengan berkas-berkas pensiun yang udah pernah ayah kumpulin.

Karena saat itu ayah baru aja pulang ta'ziah dari meninggalnya anaknya temennya, jadi ayah mengabaikan dulu permintaan si penelepon tadi.

Tapi gak lama, ayah ditelepon lagi untuk segera mempersiapkan berkas-berkasnya dan segera dikumpulkan paling lambat jam 3 sore di kantor Dinas Pendidikan. Selain mempersiapkan berkas-berkas, ayah juga diminta untuk mentransfer uang sebesar 15 juta rupiah untuk nantinya diganti dengan uang sebesar 350 juta rupiah yang merupakan hadiah yang dibilang tadi. Berkas dan uang harus segera dikumpulkan dan ditransfer. Kalau nggak, hadiah yang dijanjikan akan dialihkan ke orang lain.

Mungkin karena merasa diburu-buru akhirnya ayah pulang mempersiapkan berkas-berkasnya dan menanyakan ke Ibu apakah Ibu punya simpanan uang di rumah. Disini sebenernya Ibu udah curiga, Ibu tanya ke ayah untuk apa uangnya? Ayah cuma bilang untuk pensiunan dan nanti bakal dapat ganti uang yang lebih banyak.

Tapi akhirnya ayah juga sadar, bahwa ada yang tidak beres dengan skema pemberkasan pensiun yang diterimanya lewat telepon ini :
1. Mengenai nama si penelepon. Si penelepon mengatakan bahwa namanya Mutholib, Kepala Dinas Pendidikan Jombang. Padahal setahu ayah nama Kepala Dinas Pendidikan Jombang adalah Mu(N)tholib. Dan suara Pak Muntholib berbeda sekali dengan suara si penelepon.

2. Skema pemberian berkas.
Ayah diberi tahu saat menyerahkan berkas di Dinas nanti ayah tidak perlu masuk ke kantor Dinas, tapi menunggu saja di dekat gerbang karena nanti akan ada seseorang yang akan menghampiri ayah.

3. Syarat transfer uang lebih dulu sebelum dapat yang lebih banyak.
Mungkin ini yang bisa dijadiin kecurigaan paling besar. Kalau memang mau dapat hadiah, kenapa harus ngasih (transfer) lebih dulu? Kenapa gak langsung dikasih aja?

Berdasar kecurigaan-kecurigaan tersebut, ayah segera datang ke Dinas Pendidikan untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi yang diterima ayah. Padahal saat itu ayah sudah siap untuk transfer uang dan menyerahkan berkas. Ayah bahkan sempat menelepon balik si penelepon untuk menanyakan dimana posisi si penelepon dan apa yang harus dilakukan ayah selanjutnya. Tapi begitu sampai di kantor Dinas Pendidikan, tanpa bertanya ayah sudah langsung disambut oleh pegawai kantor Dinas Pendidikan.

"Nyuwun sewu, pun duko nggih Pak. (mohon maaf, jangan marah ya Pak) bapak pensiunan ya?" tanya si pegawai.

"Iya." jawab ayah.

"Baru saja dapat telepon?"

"Iya." jawab ayah lagi.

"Sudah ditrasfer uangnya?"

"Belum Pak. Uangnya belum saya transfer."

"Wah... bener Pak. Bener sekali. Mboten usah (tidak perlu) ditransfer uangnya. Dibiarkan aja. Mboten usah digatekaken (Nggak usah dipedulikan)."

Dari perkataan si pegawai ini akhirnya ayah sadar, bahwa beliau hampir aja kena penipuan.

Setelah mendapat keterangan itu, ayah bergegas pulang dan gak menghiraukan lagi telepon-telepon dari si pelaku (yaa... ayah sempet ditelepon lagi setelah itu).

Sebenernya, Dinas Pendidikan sendiri udah memberikan pengumuman dan pemberitahuan melalui media-media terkait. Seperti lewat radio Suara Pendidikan (radio milik Dinas Pendidikan Jombang) dan melalui akun twitter Suara Pendidikan.


Tapi mungkin pengumuman dan pemberitahuan ini kurang menyebar ke masyarakat (khususnya dalam kasus ini di dalam lingkup Dinas Pendidikan) sehingga oknum-oknum penipu ini masih berkeliaran mencari mangsa. Dan masyarakat kemungkinan masih banyak yang terperdaya.

Oleh sebab itu, dari pengalaman yang menimpa ayahku ini siapapun (khususnya bapak/ibu pensiunan) jika mendapatkan telepon dari orang gak dikenal yang memberikan iming-iming uang banyak tapi mengharuskan kita transfer uang lebih dulu sebagai syarat harus diwaspadai dan dicurigai. Kita juga sebaiknya lebih tahu dan lebih peka pada lingkungan kerja/lingkungan tinggal kita dengan mengetahui setidaknya nama lengkap dari orang-orang yang ada di sekitar lingkungan kerja/tinggal kita. Dan yang paling penting, usahakan untuk mengkonfirmasi terlebih dahulu setiap informasi yang kita dapatkan pada pihak-pihak atau instansi-instansi terkait. Jangan karena diburu-buru deadline dari si oknum pelaku kita jadi lupa mengkonfirmasi kebenarannya.


Semoga cerita ini bisa sekaligus menjadi informasi untuk semuanya. Agar lebih waspada lagi.
Jangan sampai jadi korban penipuan. Karena modus penipuan udah semakin banyak dan semakin beragam. Dan apa yang dialami sama ayahku cuma satu dari sekian banyak modus penipuan yang ada.

Hati-hati yaa semuaaaaaa........ :)

2 komentar:

  1. alhmdulillah ya mbk, ayahnya selamat dr penipuan, dan makasih bgd nih infonya yak, slm hangat dari jombang juga :)

    BalasHapus
  2. Wah, penipuan ada dimana-mana ya mba, harus selalu waspada nih.
    Kunbalke muhrid.com ya mba, hehe

    BalasHapus