Senin, 30 Oktober 2017

Belajar Arti Berjuang, Lawan, dan Kawan

Senin, Oktober 30, 2017 0 Comments
Tepat seminggu lebih sehari yang lalu, aku melihat sebuah scene yang akan membuat siapapun terenyuh.

Yang akan membuat penilaian orang-orang (mungkin) bisa berubah.

Bahwa,

"Dalam setiap kompetisi atau pertandingan, yang terjadi bukan akan hanya tentang persaingan. Bukan hanya tentang pembuktian akan siapa yang menjadi yang terbaik.
Tapi juga bisa tentang arti dari sebuah perjuangan, pengorbanan, bahkan sebuah persahabatan dan persaudaraan.
Di dalam arena kompetisi kita boleh menjadi lawan, tapi ketika ketika melangkah keluar kita adalah sahabat - saudara."

Rinov Rivaldy/Phita Hayunigtyas Mentari (baju hitam) Juara WJC 2017 sektor Ganda Campuran.
(Foto by : PBSI)

Jadi ceritanya, di hari Minggu, (22/10) yang lalu aku asik nonton babak final Kejuaran Bulutangkis Junior (World Junior Championship (WJC)) yang disiarin di Kompas TV. Sebenernya babak final dimulai jam 11-an kalau nggak salah, tapi aku baru baru bener-bener nonton sekitar jam 1 atau setengah 2-an siang.

Sejujurnya, siang itu aku tuh gak ada niatan sama sekali nonton final WJC. Tapi beberapa hari liatin TL twitter dan juga IG yang lumayan rame juga ngomongin tentang WJC, akhirnya nonton lah babak final siang itu. Gak ada ekspektasi sama sekali pas nonton pertandingan paling bergengsi di level junior itu. Gak ada feeling bakal baper atau deg-degan. Tapi teteup ajaa.... pas akhirnya nonton, liat dedek-dedek pemain Indonesia main, rasa baper dan deg-degan itu seketika menyeruak. Liat GOR Amongrogo, Jogja tempat diadainnya WJC yang rame dipenuhi penonton rasanya iri dan pengen kabur menuju kesana buat ikutan dukung langsung dedek-dedek pemain masa depan Indonesia yang lagi berjuang ini! Tapi apa daya cuma bisa nonton di tipi... :'( *seketika kangen Amongrogo. Kangen Indonesia GPG 2013* *yak, aku memang lemah!*

Kemudian sebuah kejadian mengguncang dunia per-BL (a.k.a Badminton Lovers)-an.

Menjelang akhir pertandingan sektor ganda campuran (XD) yang sebenernya cukup aman, damai, sejahtera nan sentosa karena mempertandingkan sesama pemain Indonesia yaitu Rinov Rivaldy/Phita Haningtyas Mentari dan Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti tiba-tiba Fadia meminta bantuan medis. Wah jangan-jangan bau-bau cedera nih. TL twitter pun mulai bergejolak.

Tensi TL semakin naik ketika akhirnya Rinov/Phita berhasil keluar sebagai juara. Mereka berhasil menang dari Rehan/Fadia yang notabenenya adalah juara Asia Junior Championship (AJC). Syalalaaaa.....

Phita Hayuningtyas Mentari/Rinov Rivaldy. Juara Ganda Campuran WJC 2017
(Foto by PBSI)

Kemudian TL berubah jadi gonjang-ganjing ketika seremoni pemberian hadiah di sektor XD tidak segera dilakukan karena kabarnya menunggu Fadia yang sedang ditangani medis. Tapi kemudian berhembus kabar, Fadia tidak bisa ikut seremoni karena kondisinya tidak memungkinkan. Katanya sampai tergeletak di pinggir lapangan dan rencananya bakal keluar dari arena dengan ditandu. Dan Rehan akan mengikuti seremoni pemberian hadiah SENDIRI.

Dan memang, ketika akhirnya seremoni siap dilakukan Rehan berdiri di belakang podium runner up sendiri. Di sebelah kirinya (kanan dari yang nonton) ada Phita dan Rinov yang juara.

Namun tiba-tibaa.... tanpa terduga, dengan dipapah oleh Kepala Sub Bidang Hubungan Internasional PBSI, Bambang Roedyanto (atau yang akrab disapa Koh Rudy) dan seorang panitia Fadia mendatangi podium. Dengan kondisi yang terlihat sangat lemah dan napas terengah, pemain spesialis ganda itu menginginkan untuk mengikuti seremoni.

"Koh, saya harus menghargai perjuangan teman saya..." 

Begitu kata Fadia ketia ia memaksa ke podium yang disampaikan oleh Koh Rudy melalui update status Facebooknya.

Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah adegan-adegan dimana semua rivalitas di arena lapangan seluruhnya ditanggalkan. Rehan yang memang partner Fadia dengan sabar memapah Fadia, memeluk dan membantunya ketika harus naik ke atas podium. Phita yang beberapa menit yang lalu, saat pertandingan masih berlangsung adalah rival yang harus dikalahkan Fadia, justru kemudian menggamit lengan Fadia membantu Rehan saat Fadia kesusahan naik ke podium. Dan hampir sepanjang prosesi pemberian hadiah itu, Phita menggenggam erat tangan Fadia.

Fadia dibantu Rehan dan Phita saat naik ke atas podium.
(Courtesy on photo)
Rehan/Fadia dan Phita/Rinov

Siapapun yang liat momen itu pasti akan terenyuh dan terharu dengan persahabatan mereka.

Di arena pertandingan, mereka bisa saja menjadi lawan dan saling mengalahkan. Tapi di luar, mereka adalah teman, sahabat, bahkan keluarga. Yang sama-sama berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia.

Kalaupun kemudian ada yang mencibir, lebih baik tidak usah dipedulikan saja!
Hatters gonna be hate.

Dan satu hal lain yang perlu untuk diberi apresiasi setinggi-tingginya adalah kegigihan Fadia untuk tetap mengikuti seremoni walaupun kondisinya tidak memungkinkan. Dia bisa saja melewatkan momen penyerahan medali itu dan mendapatkan perawatan intensif untuk kesehatannya, namun ia justru melakukan yang sebaliknya.

Dalam benak Fadia, selain memang karena ia ingin menghargai perjuangan temannya, dia juga tidak ingin melewatkan momen paling berharga bagi seorang atlet. Berdiri di podium kejuaraan paling bergengsi. Mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang, meski lagu itu berkumandang bukan atas namanya tapi paling tidak ia sudah berjuang agar bisa mengumandangkannya.

Dengan khidmat tetapi juga sambil menahan sakit, Fadia menyaksikan bendera Indonesia diiringi dengan kumandang lagu Indonesia Raya dikerek ke tiang tertinggi. Berusaha sekuat tega dengan posisi sempurna, menghormat ke arah bendera. Mungkin karena sakit yang sudah tidak tertahan, Fadia pun hampir ambruk. Beruntung ada Rehan di belakangnya yang menopangnya untuk tetap berdiri tegak.




Dan walaupun sekuat apapun Fadia bertahan. Kondisinya yang sudah sangat lemah, dia akhirnya menyerah. Begitu Indonesia Raya selesai berkumandang, Fadia pun pingsan!




Dari kabar yang kubaca, kondisi Fadia memang sudah tidak fit sejak sebelum final dimulai. Namun ia tetap memaksa untuk bermain. Mengenai penyebab pingsannya, dari rilis klarifikasi yang dikeluarkan oleh PP PBSI, Fadia hanya terlalu kelelahan. Sehingga ia sesak napas hingga pingsan. Tidak ada cedera yang menyerangnya.

Di WJC 2017 Fadia mungkin harus mengakhiri perjalanan dan perjuangannya dengan kondisi yang bisa dibilang tidak membahagiakan. Tapi bisa jadi, momen ini akan menjadi momen yang akan diingatnya seumur hidup. Dimana ia berjuang untuk menghargai pengorbanannya sendiri. Menghormati perjuangan teman seperjuangannya.

Dan meski sempat membuat heboh dan panik warganet, tapi kondisi Fadia pulih dengan cepat. Bahkan dirinya tetap bisa mengikuti turnamen Indonesia IC yang digelar dua hari setelah final WJC.

Yang kemudian membanggakan, tepat seminggu setelah kejadian WJC, Fadia menunjukkan prestasinya.

Di turnamen Indonesia IC yang diikutinya, Fadia bersama Angelica Wiratama menjadi runner up di sektor ganda putri. Tidak hanya itu, kembali bersama Rehan, partner yang sangat membantunya di sektor ganda campuran, Fadia berhasil menjadi juara.

SELAMAT!!

Podium Ganda Putri Indonesia IC
Podium Ganda Campuran Indonesia IC



Selain Tuhan, kita tidak akan pernah tahu bagaimana akhir dari sebuah perjalanan dan perjuangan yang kita lalui.

Apakah itu memang benar-benar sebuah akhir?

Ataukah justru sebuah awal?

Tetap berjuang Siti Fadia Silva Ramadhanti, dan juga para pemain-pemain muda bulu tangkis Indonesia. Di tangan kalian, supremasi kejayaan bulu tangkis Indonesia akan dipertaruhkan.

Tetaplah rendah hati, saling membantu dan menyanyangi satu sama lain.

Jangan lelah untuk terus berlatih dan berjuang... :)

Kami menunggu kalian berdiri di podium tertinggi, mengharumkan nama bangsa Indonesia.. :)


Salam..
Dari kami,
Yang mencintai dan menyayangi kalian
dan juga bulu tangkis Indonesia.



Sumber foto :
Official website PP PBSI
Badmintalk
Screencapture live Kompas TV oleh beberapa fanbase bulutangkis di twitter



Jumat, 27 Oktober 2017

Hai, I'm Back (Again and Again)

Jumat, Oktober 27, 2017 2 Comments
Whoaaaa..... hampir 7 bulan lamanya yaaa aku meninggalkan blog ini kosong gak pernah diisi.

Dan sepertinya ini udah banyak sarang laba-labanya.

Jadi, OKEFIX!
Dibersihin dulu yaaa biar bersih...
Hehehee....


Untuk kali ini aku gak mau, seperti yang sudah-sudah aku menulis postingan tentang kembalinya diriku dari hibernasi panjang tapi malah berisi tentang alasan-alasan kemudian berakhir menyalahkan kesibukan dan juga kemalasan sehingga akhirnya blog ini nggak terisi apa-apa.

Sebenarnya selama hampir tujuh bulan ini tuh kegiatan gak banyak yang berubah kok. Masih tetep kerja di Majalah Suara Pendidikan, masih suka nonton drama, suka nonton YouTube, dan suka stalking IG mantan fanbase bias*. Hahahahaa.....
PS : Terlalu asyique stalkingin oppa-oppa 2PM ini.. #plak.

2PM setelah live V-Live 9th debut anniversary.
(Source : 2PM Official Twitter)

Malas dan terjebak zona nyaman. Itu lah yang kurang lebih tujuh bulan belakangan ini aku rasain.

Kebiasaan sekrol-sekrol TL liat-liat foto dan nonton video itu emang jauh lebih enak dibanding harus mengerjakan hal-hal yang serius. Semacam nulis blog macem begini. Karena percayalah.... nulis itu butuh mikir! Mikir buat nyusun kalimat dan milih kata yang enak buat dibaca (apalagi setiap harinya otak udah diperes buat nulis berita di kantor) #plak #curcoldikit. Hehee...

Aku sendiri pun kemudian juga menyadari bahwa ngeblog ini sepertinya bukan menjadi 'kebutuhan' atau sekedar kebiasaan yang jika tidak dilakukan tidak membawa dampak apa-apa. Jadi ketika aku lama gak pernah update, tidak akan ada yang dirugikan.

Sesekali ada rasa kangen untuk ngeblog lagi, tapi kemudian akan selalu kalah dengan kenyamanan bermain di sosial media lain.

Jadi ketika aku kembali seperti ini dan misalnya suatu saat akan menghilang lagi, alasannya pun akan sama.

Dan untuk kali ini, aku tidak berani menjanjikan apapun kepada kalian para pembaca.

Jika pun akhirnya aku akan lebih rajin untuk update, anggap saja itu sebagai salah satu hasil dari kerja keras yang aku coba lakukan. Sekaligus cara untuk lebih 'mendisiplinkan' diri sendiri.

Dan jika pada akhirnya nantinya akan menghilang lagi, mohon dimaklumi saja mungkin mood dan semangat buat ngeblognya hilang lagi.. :'(

Aku cuma berharap, semoga setiap aku kembali akan ada pembaca yang membaca tulisan-tulisanku. Meninggalkan jejak komentarnya di akhir postingan. Tapi kalau gak ada juga gak apa-apa lah.

Heheee....

Kalau begitu, sampai ketemu di next tulisan yaaa... :)

Rabu, 19 April 2017

[REVIEW] Fabricated City : Ketika Gamers dihadapkan pada Realita

Rabu, April 19, 2017 4 Comments
"Orang-orang bilang jika pohon itu telah mati.
Tapi aku bilang, pohon itu masih belum mati.
Malam itu... aku bermimpi.
Di dalam mimpiku itu aku melihat cabang-cabang pohon tersebut,
bertumbuh dengan kuat mengarah ke langit.
Sekali lagi aku mengumpulkan orang-orang dan berkata...
"Pohon itu... belum mati."" -Kwon Yoo.


Sukses dengan drama The K2, Babang Ichang a.k.a Ji Chang Wook oppa kembali menggebrak dunia hiburan Korea dengan aksi-aksi atraktifnya lewat film action yang berjudul "Fabricated City". Gak beda jauh dengan drama Bang Ichang sebelumnya, The K2 dimana Bang Ichang harus lari-lari, kebut-kebutan mobil, berantem-berantem, pukul-pukulan, sampe main tembak-tembakan, di film Fabricated City ini pun Bang Ichang juga harus melakukan scene-scene yang sama seperti di The K2. Tapi bedanya di film ini, efek visualnya lebih sangar sehingga suasananya lebih tegang, dan gokiiiilll....!! :D


Judul : Fabricated City
Sutradara : Park Kwang Hyun
Negara : Korea Selatan
Bahasa : Korea
Genre : Action, Crime
Durasi : 126 menit
Distributor : CJ Entertainment
Rilis :  9 Februari 2017 (Korea) / 24 Februari 2017 (Global)

Pemain :
Ji Chang Wook sebagai Kwon Yoo
Shim Eun Kyung sebagai Yeo Wool (Teolbo Hyeongnim)
Ahn Jae Hong sebagai Demolition
Oh Jung Se sebagai Min Chun Sang
Kim Sang Ho sebagai Ma Deok Soo



PLOT

Di kehidupan nyata, Kwon Yoo (diperankan oleh Ji Chang Wook) adalah seorang pengangguran yang hobinya main game online sepanjang hari. Ibunya yang (sepertinya) bekerja sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit sampai sebal melihat kelakuan Kwon Yoo. Tapi siapa sangka, di dunia game Kwon Yoo justru merupakan seorang Daejang atau Captain yang memimpin sebuah kelompok yang saling bekerja sama dalam sebuah misi dalam sebuah game.

Suatu hari, Kwon Yoo yang sedang asyik bermain game terinterupsi dengan bunyi nada dering dari sebuah ponsel yang tertinggal di bawah meja sebelah tempatnya biasa bermain game. Tertarik dengan imbalan yang akan diberikan jika ia bersedia mengembalikan ponsel yang ia temukan tersebut ke alamat yang sudah disebutkan, Kwon Yoo pun bersedia untuk mengembalikan ponsel tersebut. Namun naas, keesokan paginya setelah Kwon Yoo mengembalikan ponsel tersebut Kwon Yoo justru ditangkap polisi dengan tuduhan pemerkosaan sekaligus pembunuhan terhadap anak-anak di bawah umur dengan 31 tusukan di tubuhnya. Karena merasa gak melakukan perbuatan yang dituduhkan, Kwon Yoo pun dengan sekuat tenaga menyangkal.

Tapi gak tau gimana, proses hukum justru dengan sangat cepat memproses kasus Kwon Yoo. Gak hanya proses hukum yang berlangsung dengan sangat cepat, bukti-bukti yang dibutuhkan untuk membutikan Kwon Yoo bersalah pun dalam sekejap bisa ditemukan dan diberikan. Sehingga pada akhirnya Kwon Yoo pun terpaksa menerima hukuman seumur hidup atas kejahatan yang gak dilakukannya.


Di penjara, Kwon Yoo dibully habis-habisan oleh narapidana lain termasuk oleh Ma Deok Soo, salah satu narapidana yang paling ditakuti di penjara. Oleh Ma Deok Soo Kwon Yoo dipaksa untuk mengakui perbuatannya dan bertaubat. Karena itulah tujuan dari seorang penjahat masuk ke dalam penjara. Tetapi karena Kwon Yoo berkeyakinan ia tidak bersalah, ia menolak permintaan Ma Deok Soo dan berakhir dengan perkelahian diantara Kwon Yoo dan kawanan Ma Deok Soo.

Suatu hari di perjalanan menuju rumah sakit usai terlibat perkelahian cukup parah dengan Ma Deok Soo, Kwon Yoo melakukan aksi pelarian diri. Dari aksi pelarian diri ini, Kwon Yoo kemudian justru bertemu dengan Teolbo Hyeongnim (yang aslinya seorang perempuan bernama Yeo Wool) dan rekan-rekan satu timnya yang lain dalam game.

Dengan bantuan rekan-rekan se-timnya dalam game, Kwon Yoo kemudian memulai misi penyelidikan siapa dalang di balik semua kejadian yang menimpa dirinya tersebut.



KESAN

Kesan selama nonton film ini tuh KAMPRET! KEREN ABIS!!

Di pembuka film kita dikasih scene-scene tegang pertempuran yang diolah dengan efek-efek yang keren abis. Kemudian kita diajak buat memahami kehidupan sederhana tapi lumayan ngenes ala si Kwon Yoo yang pengangguran tapi keranjingan main game. Setelah itu kita ditarik dibikin penasaran dengan scene dimana Kwon Yoo tiba-tiba ditangkap polisi, diproses secara hukum dengan cepet banget sampai Kwon Yoo masuk penjara dan dibully habis-habisan di dalam penjara.

Sampai sejauh itu kita dibikin greget dan gemes...

Baru ketika Kwon Yoo akhirnya kabur dari penjara trus ketemu Teolbo Hyeongnim (Yeo Wool) kita akan dibuat ternganga dengan peralatan-peralatan yang dia punya. Sebagai seorang gamer yang ternyata seorang hacker juga, Yeo Weol punya seperangkat alat dan komputer yang canggih di rumahnya yang (menurutku) lebih mirip kandang ayam. Hwahahaa.....

Bagi kalian yang anak gamer pasti mupeng liat alat-alat yang dipunya Yeo Weol.

Siapa yang gak mupeng liat beginian?


Selama nonton film ini, selain tokoh Kwon Yoo yang penting dan menarik karena dia teraniaya gara-gara difitnah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan, tokoh/sosok Yeo Weol juga menarik banget karakternya. Dia digambarin sebagai orang yang (mungkin) anti sosial. Di awal ketemu Kwon Yoo dan temen-temen gamernya yang lain, Yeo Weol gak mau berkomunikasi secara langsung. Dia maunya ngomong lewat telepon. Yang itu bikin temen-temennya heran.. :v

Tapi untuk masalah kemampuan komputerisasinya... jangan ditanyaa... dia jago banget. Dia bisa jadi hacker handal yang bisa menyusup ke sistem-sistem operasi orang demi bisa dapetin informasi. Bisa juga jadi aplikator handal juga yang bisa bikinin aplikasi pendukung buat alat-alat yang akan dipake temen-temennya untuk ngebantu ngebongkar rahasia kasus Kwon Yoo.

Yeo Weol si Lady Hacker.... \m/

Selain ada Yeo Weol ada juga Demolition dan siapa itu dua orang lagi yang aku gak apal namanya yang juga ngebantuin Kwon Yoo dan Yeo Weol dalam pengungkapan kasus Kwon Yoo. Mereka keren bangeeet. Kalau Yeo Weol ngurusin masalah ngehack dan aplikasi di komputer, mereka berdua ini yang ngerakit dan ciptain alat-alat pendukung seperti alat pendeteksi gelombang, sampe drone yang bisa memindai struktur bangunan. Keren abiss laah...

Disini aku juga salut sama usaha ibunya Kwon Yoo yang mati-matian berusaha meyakinkan masyarakat dan juga pihak hukum bahwa anaknya gak bersalah. Tapi karena ada sesuatu yang 'dilakukan' usaha ibu Kwon Yoo sia-sia.. :(

Oppa setampan ini jadi pembunuh? Gak mungkin!! :p

Berhubung genre film ini adalah action dan crime, maka film ini juga gak jauh-jauh sama adegan perkelahian yang hantam-hantaman dan gebuk-gebukan. Untuk masalah scene action yang melibatkan adegan pukul-pukulan, gebuk-gebukan, sampe berdarah-berdarah itu.. acting Ji Chang Wook gak perlu lagi untuk diragukan. Dia selalu totalitas banget dalam melakukan scene action itu. Hasilnya pun selalu keren. Aku gak perlu lagi kan untuk menyebutkan bukti kekerenan si Babang Ichang ini dalam melakoni scene action yang kadang-kadang setengah akrobat juga? Suksesnya drama Healer dan The K2 udah cukup jadi bukti. #eak.

Trus berhubung latar belakang film ini juga adalah 'dunia game' dan juga kecanggihan teknologi maka alat-alat yang divisualisasikan di layar pun juga keren-keren banget!
Selain seperangkat alat yang dipunya Yeo Weol, alat-alat yang dipunya sama Min Chung Sang si pengacara yang ternyata nyebelin itu juga keren abiisss.... Dia bisa mengakses bermacam-macam info dari berbagai pihak lewat kumpulan-kumpulan alat yang ada di salah satu ruangan di kantornya.

Cem gini niihh...!!!

Disamping punya alat yang canggih abiss... Min Chung Sang ini juga punya tim yang bergerak buat 'ngebikin' bukti kejahatan dan TKP kejahatan dengan tersangka yang mereka mau. Gimana caranya? Tonton ajaaa... karena kalau kuceritain disini nanti ketahuan dong penyebab Kwon Yoo bisa ditetapin jadi tersangka padahal dia gak ngelakuin apa-apa. :D *nyengir*

Si Min Chung Sang ini juga menurutku sosok antagonis yang serem. Dia hampir mirip-mirip psikopat gitu deh. Pura-pura baik tapi ternyata dia busuknya minta ampun! KZL!

Intinya film ini tuh recommended banget deh buat ditonton. Apalagi buat yang suka sama film-film action dan yang bergenre kriminal. Cocok bangeeett!!

Scene yang menurutku paling keren dan paling deg-degan tuh yang pas bagian akhir yang Kwon Yoo harus kejar-kejaran pake mobil sama gengnya Ma Deok Soo. Ituu adrenalin rush bangeeett!! Bikin khawatir kalau tiba-tiba mobil yang dipakai Kwon Yoo macet atau justru malah meledak sebelum kasusnya kelar (yang padahal kalau dinalar juga gak akan mungkin) :p


Overall 9,5 dari 10 lah buat film ini.. :D

Jadi yuklaahh ditonton... :D

Buat yang udah nonton, share yuk gimana kesannya abis nonton film ini... :D





PS : maafin yaaa kalau reviewnya ini kurang greget. Karena aku sebenernya gak terlalu bisa buat ngegambarin gimana seru dan tegangnya drama action. Hehee...
Jadi mending kalian nonton sendiri ajaaa dan buktiin betapa seru dan asiknya film ini... :D




Sumber Gambar :

Selasa, 18 April 2017

3 Langkah Kabur Terfavorit

Selasa, April 18, 2017 2 Comments
Haaiiii gaessss......
Akhirnyaaaa.... aku nulis lagi disinii.... *guling2*

Apa kabar kalian? Baik kaann...?? Aku harap selalu baik.. :D

Sadar gak sih kalau belakangan ini berita-berita gak cuma di TV, koran, portal media online, dan sosial media sekali pun dipenuhi sama berita-berita Pilkada DKI yang melebar kemana-mana. Udah gak cukup cuma tentang pemaparan visi-misi pasangan calon (paslon) doang, tapi udah merembet ke masalah (yang katanya) pelecehan agama, yang kemudian berbuntut ke main lapor-laporan ke polisi sampe ngelibatin ulama.

Gak cukup sampe situ, perdebatan ke ranah agama pun jadi rame.
Yang gak setuju dibilang kafir, yang netral alias gak ngebela siapa-siapa dibilang gak punya pendirian, dan yang diem aja dibilang gak kuat iman.

Pusing? Iya!
Mual? Pasti!
Badmood? Apalagi!
Bete? Jangan ditanya karena jawabannya pasti IYA!
Kesel? IYA BANGET!!
Jadi pengen ngebanting lamborghini-nya Junho tau gak siih kalau kayak gini??!! *laahhh kenapa Junho dibawa-bawa?* :p *ah sudahlah. hidup saya akhir-akhir ini memang sedang ter-Junho-nisasi*

Nah daripada aku memperpanjang penderitaanku sendiri dengan semakin kesel sendiri karena ngeliat perdebatan yang bikin pusing dan gak ada abisnya itu, maka aku sering banget untuk memutuskan kabur dari peradaban demi gak ngeliat kejadian itu semua.

Kabur dulu gaesss.....

Nah.... kalau gitu apa aja sih kegiatan yang biasanya aku lakuin untuk kabur dari berita-berita yang memuakkan itu?

1. Nonton.

Seringnya sih nonton atau film atau drama dengan modal minta, donlod, atau nonton streaming. Drama yang ditonton pun kebanyakan Drama Korea dengan aktor dan aktris yang cakep-cakep dan cerita yang seru. Kadang-kadang juga drama Jepang yang punya cerita bagus dan seru sama pemain-pemainnya yang aku suka.

Tapi meskipun aku suka nonton drama, tapi pelis jangan ajak aku nonton sinetron atau FTV! Karena sinetron teruatama kisahnya sama rumitnya kayak kasus penistaan agama. :p

Meskipun kadang kalau lagi nonton drama gitu suka kesel juga karena rumitnya plot cerita, tapi percayalah itu masih menghibur daripada perhatiin rumitnya plot cerita Pilkada dan kasus (yang katanya) penistaan agama itu.. :p


Selain nonton drama, aku sering bangeeeettttttt nontonin video di YouTube. Videonya terserah, bisa video apapun. Tapi seringnya sih nontonin MV/video klip atau live performance-nya bias (idola) kesayangan. *uhuk*. Seperti yang udah aku ceritain disini, kalau akhir-akhir ini tuh aku lagi seneng ngepoin semua videonya 2PM. Hehehee.... Tapi sesekali juga ngepoin yang lain-lain. :D

Selain ngepoin MV atau live performance-nya juga ngepoin video-video reality show yang bintang tamunya si bias kesayangan itu atau reality show yang emang dipandu sama mereka sendiri, kayak yang ini :
PS : ati-ati ngakak so hard pas nonton ini* :p



Beruntungnya selama kurang lebih 4 atau 5 tahun belakangan ini, di rumah gak ada TV dan baru ada TV lagi sekitaran sebulan yang lalu. Dan meskipun udah punya TV (lagi) aku lebih milih buat nonton berita-berita yang gak ngeselin. Atau lebih milih buat nonton drama Korea aja yang udah dimasukin di flashdisk trus diputer di TV. *karena kebetulan TV-nya bisa buat nyetel video yang udah dimasukin flashdisk. Dan ini enak banget karena lebih lega dan puas karena layar yang lebih gede dibanding layar laptop* :v

Tapi menghindari di TV gak berarti bisa menghindari dari internet lewat portal berita online dan sosial media? Aku gak bisa menghindar. Karena sebagai gadget addict aku gak bisa lepas dari yang namanya HP dan internet.

Maka untuk meminimalisir berita-berita ngeselin itu semua dari layar HP, biasanya aku memilih untuk gak membuka berita tentang tema-tema 'menyebalkan' itu, mengabaikan dengan gak mengikuti obrolan dengan tema itu, atau jika amat sangat menyebalkan aku bakal unfriend/unfollow temen yang tiap hari ngebahas tema itu mulu.

Sadis? Iya!
Jahat? Emang!
Ntar jadi ketinggalan berita? Biarin!

Asal hidupku bahagia.

Duh, kok jadi kebanyakan curhat dan ngomel. Padahal tadinya kan aku mau sharing kegiatan apa yang aku lakuin untuk 'kabur' dari kabar-kabar yang ngeselin itu kaann...?? -__-

Next!

2. Sosmed all the day.

Ini sebenarnya gak patut banget buat dicontoh.
Daripada cuma main-main sosmed sepanjang hari, mending ngapain gitu yakk yang agak berfaedah. Misalnya rajin post blog gitu... #eaaakk.

Tapi yaa mau gimana lagi yaakk yang namanya gerakin jempol sekrol-sekrol feed IG ngeliatin foto bias atau meme-meme dari foto-foto banyol bias dan temen-temen membernya itu menyenangkan sekali. Kalau mulai bosen di IG, pindah ke twitter (tanpa liat post tentang berita), Pinterest, FB, Path, trus balik ke IG lagi sambil sesekali ngecek chat di grup yang ada di WA atau Line. Gitu aja sampe Junho 2PM jadi suami ekeu. #eeehhh. *disambit pembaca*



Tapi asli loh yaaa liatin meme-meme lucu kayak gitu itu lebih menyenangkan dan menghibur ketimbang harus liatin postingan kampanye yang berbau SARA, atau postingan-postingan lain yang mengumbar kebencian, mengundang amarah, dan yang lain-lain.

Lebih berfaedah juga ketimbang liat atau nyebar berita hoax, atau share postingan yang isinya nyuruh kita buat ketik like dan amin biar masuk surga tapi sebulan kemudian akunnya udah dijual ganti jadi akun OL-shop.. #eehhh.

3. Tidur!

Dan ini adalah jurus pamungkas ketika semua kegiatan di atas sudah gak shanggup lagi untuk menghindarkanku dari kemuakan liat, dengar, dan nontonin berita-berita dengan tema yang ngeselin.



Cukup siapkan bantal dan guling (plus selimut kalau suka pake selimut. kalau aku sih enggak suka) kemudian rebahkan diri di atas kasur, cari posisi yang pewe tidur deehh... hehehehee....
Apalagi kalau suasanya mendukung misalnya pas mendung-mendung sendu dan agak-agak dingin gimana gittuu.... FIX cocok banget buat bobok-bobok tsantik. :D

Karena percayalah gaesss.... tidur itu mendamaikan dan menyenangkan....*kedip2* :D




Jadi yaaa itulah tiga kegiatan yang sering banget aku lakuin kalau aku lagi pengen kabur dari pemberitaan-pemberitaan yang ngeselin. Kadang-kadang juga jadi kegiatan pelarian kalau udah penat kerja juga *emang pernah penat??* #eaakk.

Sebenernya masih ada kegiatan lain seperti baca buku, dengerin musik, atau coret-coret mewarnai coloring book. Cuma intensitasnya gak sesering tiga kegiatan yang udah aku sebutin di atas itu.

Kalau cara kamu gimana nih?
Share yuukk... :)

Jumat, 09 Desember 2016

Cerita Ketemu Silvi Olivia

Jumat, Desember 09, 2016 18 Comments
Ada yang ingat dengan Silvi Olivia? Pelajar dari SMPN 1 Mojowarno, Jombang yang sempat viral diberitakan di media pada bulan Agustus lalu lantaran mengalami kecelakaan ditabrak truck yang mengharuskan dia kehilangan kaki kirinya untuk diamputasi? Ingat kan?

Kalau tidak ingat atau justru ketinggalan dengan berita tersebut, bisa baca beritanya dulu DISINI.

Udah dibaca beritanya?

Kalau abis baca berita itu trus kamu menyangka kalau Silvi kemudian jadi amat sangat terpuruk, mengasingkan diri karena tidak percaya diri dengan kondisi tubuhnya sekarang sampai gak mau masuk sekolah dan hanya mengurung diri karena malu, kamu salah besaaaarrrr.......

Silvi justru sangat aktif dan bersemangat menjalani hari-harinya. Ia sudah bersekolah seperti biasa. Ia sudah belajar dan juga bermain dengan ceria bersama teman-temannya.. :)

Aku bisa bilang begitu karena pada Selasa, 7 Desember 2016 kemarin aku berkesempatan untuk bertemu dengan Silvi di sekolahnya. Kebetulan, redaksi mengusulkan untuk membahas kembali keadaan serta bagaimana Silvi menjalani kegiatan sehari-harinya pasca kecelakaan dan operasi amputasi kaki yang dijalaninya lalu untuk majalah edisi Januari mendatang.

Harusnya sih aku membagikan cerita ini ketika majalah yang memuat berita tentang Silvi (yang kebetulan kutulis sendiri juga) sudah terbit nanti. Tapi aku sudah tidak sabar untuk membagikan pengalamanku bertemu dengan gadis 15 tahun ini. Tapi tenang aja, isi tulisan ini gak akan sama dengan isi berita yang di majalah nanti kok... :D

Gak perlu banyak penjelasan lagi, ini nih ceritaku ketika bertemu Silvi... :)

photo by : aditya eko (MSP)

Awal ketika aku mendapatkan masukan untuk meliput kondisi terkini Silvi pasca ia dioperasi, jujur aku berada diantara kondisi yakin gak yakin. Yakin karena aku memang pengen banget ketemu dengan Silvi sejak berita tentang dia ramai dibicarakan. Gak yakin karena aku takut kalau pas ketemu dia, aku gak bisa menahan sedih trus jadi mewek gak sanggup wawancara dia. Kan gak lucuuu..... -_-

Saat baca berita tentang Silvi pas Agustus lalu, aku tuh ngerasa sedih parah. Ya gimana gak sedih, anak sekecil itu udah harus menerima cobaan yang segitu berat! Silvi harus kehilangan kaki kirinya saat ia usai latihan paskibra untuk perayaan kemerdekaan RI. Parahnya Silvi harus kehilangan kaki itu gara-gara kecerobohan supir truck yang meleng karena asik main HP waktu lagi nyetir.. :'(

Tapi meski Silvi harus kehilangan kaki, dia tetap menghadapi takdir hidupnya dengan sangat tegar yang itu dibuktikan dengan ia tetap bersikukuh untuk menghadiri perayaan kemerdekaan RI di lapangan Mojowarno yang kemudian pada malam harinya mendapat undangan kehormatan dari Bupati Jombang untuk mengikuti makan malam dan pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kabupaten di Pendopo Kabupaten Jombang padahal saat itu Silvi belum secara resmi diperbolehkan pulang/keluar dari rumah sakit tempatnya dirawat.

Silvi saat menghadiri perayaan kemerdekaan RI. (sumber : brilio.net)

Tapi sekarang pas akhirnya aku ketemu Silvi langsung, empat bulan setelah tragedi itu terjadi aku justru bukan dibuat sedih. Aku justru dibuat salut dengan ketegaran dan ketangguhannya yang luar biasa. Dengan kruk yang gak lepas dari tangannya, ia sangat lincah dan aktif melangkah kembali ke kelasnya usai mengikuti lomba cerdas cermat antar kelas yang diadakan sekolahnya, SMPN 1 Mojowarno. Bersama dengan sahabatnya Devi, Silvi bersenda gurau sepanjang perjalanan mereka menuju kelas mereka di IX-B.

Sampai di kelas, Silvi yang melihat teman-temannya sedang mengerjakan tugas langsung tanpa banyak kata membatu teman-temannya. Dia bener-bener gak kelihatan minder sama sekali. Temen-temennya juga gak sama sekali memperlakukan Silvi berbeda.

"Sempat ngerasa down itu pasti. Tapi setelah dipikir-pikir lagi kenapa saya harus down lama-lama? Dipikirkan atau bahkan disesali terus menerus pun tidak akan membuat kaki saya kembali. Maka dari itu saya tidak mau lama-lama bersedih, saya harus kembali aktif dan bersemangat. Lagipula banyak orang yang sangat mendukung saya."

Begitu yang dibilang Silvi ketika aku bertanya bagaimana perasaan dia ketika harus menghadapi kondisi dia yang sudah tidak sama seperti dulu lagi.

"Dipikirkan atau bahkan disesali terus menerus pun tidak akan membuat kaki saya kembali."

Satu kalimat dari Silvi ini benar-benar menohok perasaanku yang sekaligus juga membuatku benar-benar gak percaya sekaligus salut dengan anak kelas IX SMP ini. Dengan rentang usia yang 10 tahun lebih muda dari aku, tapi dia justru punya pemikiran dan pemahaman yang jauh lebih dewasa dibanding umurnya bahkan umurku. Dari sini aku benar-benar salut, benar-benar kagum dengan kedewasaan, ketegaran, dan ketangguhan dari seorang Silvi Olivia.

Dia bisa berdamai dengan kondisinya.

Disaat kadang beberapa orang dewasa justru banyak mengeluh tentang musibah atau kondisi yang sedikit kurang menguntungkan yang sedang mereka hadapi. Yang mungkin musibah atau kondisi yang sedikit kurang menguntungkan itu tidak lebih berat dari musibah yang harus dihadapi Silvi.


Silvi membatu temannya mengerjakan tugas.
photo by : aditya eko (MSP)

Dan seperti layaknya anak-anak SMP pada umumnya, Silvi juga menjalin persahabatan yang seru dengan sahabatnya. Bersama sahabatnya Devi, ia berbagi keluh kesahnya tentang berbagai hal. Bersama Devi ia melewati masa-masa sulit pasca kecelakaan dan operasi. Bersama Devi ia masih bisa bertingkah konyol layaknya anak-anak SMP pada umumnya.

Meskipun mereka berbeda keyakinan.

Silvi yang seorang muslim dan Devi yang seorang non-muslim tak mempermasalahkan perbedaan yang ada diantara mereka. Bagi mereka asal mereka nyaman dan saling mendukung satu sama lain, persahabatan mereka akan terus berjalan. Bagi mereka, perbedaan fundamental yang akhir-akhir ini kerap membuat banyak orang tercerai berai bukanlah suatu penghalang dalam hubungan persahabatan mereka. Bagi mereka asal mereka saling bertoleransi dengan saling menghargai dan menghormati keyakinan masing-masing, perbedaan itu tidak ada artinya.

photo by : aditya eko (MSP)
photo by : aditya eko (MSP)



Perjumpaan satu jam itu bener-bener gak kerasa sama sekali. Sebenarnya ketika ditelaah lagi, aku masih penasaran dengan banyak hal. Tapi yaa gak tau kenapa saat berhadapan langsung dan ngobrol langsung dengan Silvi, aku ngeblank padahal Silvi ini anaknya enak banget diajak ngobrol. Segala macam pertanyaan dia jawab. Dia bukan tipe anak yang pendiam atau bahkan anak yang pemalu. Dia anak yang asik, mudah bergaul, dan mudah akrab dengan orang baru sekali pun.

Alasannya mungkin karena ini adalah pertemuan pertamaku dengan dia, jadinya aku masih harus menyesuaikan kondisinya dulu. Ditambah ini adalah pertemuan dalam rangka tugas. Mungkin kalau nanti aku diberi kesempatan ketemu Silvi lagi bukan dalam rangka tugas, aku bisa kepo-kepoin dia. Hehehe... Trus.... perbedaan umur. Yaa gak bisa dipungkiri lah yaaa kalau perbedaan umur itu mempengaruhi cara ngobrol juga. Hahahahaa.....

But overall, I must give standing ovacation to Silvi.
Di pertemuan singkat kita ini, dia bisa ngasih banyaaaaaaakkkkkkkk banget inspirasi buat aku.
Bahwa kita gak seharusnya terlalu larut bahkan menyesali musibah yang kita terima terlalu dalam.
Sedih boleh, sedih wajar.
Tapi jangan berlebihan.

Kelapangan, ketegaran, dan ketangguhan hati serta semangatmu yang begitu besar semoga selalu bisa menginspirasi banyak orang.

Terima kasih Silvi... :)


*tolong abaikan pose saya yang terlalu alay* :p



PS :
Jangan lupa untuk baca juga tulisanku tentang Silvi di Majalah Suara Pendidikan, edisi 53 Januari 2017 mendatang juga yaa... :D :D

UPDATE :
Tulisanku tentang Silvi Olivia yang masuk di Majalah Suara Pendidikan Edisi 53 Januari 2017, bisa juga dibaca lewat web resmi Majalah Suara Pendidikan. Atau bisa klik langsung DISINI!

Selamat membaca!! :)