Selasa, 28 Desember 2010

Surat Untuk Firman Utina cs

Selasa, Desember 28, 2010 0 Comments
oleh : es_ito




Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata "bisa" belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

**
Source : http://www.detiknews.com/read/2010/12/28/162042/1534365/10/surat-inspiratif-dari-novelis-untuk-firman-utina-cs?992204topnews

Senin, 27 Desember 2010

Kutetap Menanti

Senin, Desember 27, 2010 0 Comments
song by Nikita Willy.

Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu
Berjuta pilihan disisiku
Takkan bisa menggantikanmu

Walau badai menerpa
Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik
Dan masih jadi yang terbaik

Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku

Biarlah waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti

Walau badai menerpa
Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik
Dan masih jadi yang terbaik

Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku

Biarlah waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti

Penantian panjang

Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya hanya untukku

Biarlah waktuku
Habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar
Cintaku padamu ku tetap menanti

Cintaku padamu..
Ku tetap menanti

Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu

**

Note :

Sumpah… Lagu ini aku banget! Lagu ini bener2 mencerminkan kehidupan cinta aku banget!

Dari aku kecil sampe aku sebesar ini, aku masih ‘mencintai’ seorang cowok. Bisa dibilang cowok ini adalah cinta pertamaku. Cinta pertama yang gak bisa dilupain. Gimana gak cinta pertama… Aku mulai suka sama cowok ini sejak aku masih kelas 3 SD dan sampe sekarang (aku udah kuliah semester 1) aku masih mendam rasa cintaku ini. Kalo diitung-itung mungkin udah ada 10 tahun kali ya..?? Mungkin sebagian orang boleh bilang aku bodoh, obsesif, atau apa, aku gak peduli karena memang itu kenyataannya!

Aku udah bener2 speechless gak bisa ngomong apa2.

Lagu ini bener2 ngena! Menusuk dalam hati.

Andai kau yang ada di sana tau lagu ini… Lagu inilah yang mencerminkan perasaanku padamu selama 10 tahun terakhir ini.. Maka kumohon pahamilah perasaanku…

Untuk engkau pria yang sangat spesial…

Mr. I.S yang lahir 5 Mei 1991, “Takkan ada yang bisa menggantikanmu”

**

Ini nih sosok pria yang mampu membuatku ‘setia menunggu’ dalam ‘penantian panjang’ :D

WHEN THE STORY CONTINUED

Senin, Desember 27, 2010 0 Comments
CHAPT 3 : KEKHAWATIRAN

“Edward, apakah kau lupa dengan semua upaya yang telah kau lakukan bersama dengan keluargamu selama ini? Jawabku dengan nada setenang mungkin karena aku sadar emosi Edward sedikit terpancing akibat pertanyaanku sebelumnya.

“Apa yang kau maksud dengan kepura-puraan Bells?”

“Sudah berapa kali kalian berpindah-pindah untuk menyamarkan identitas kalian? Untuk menghindari kecurigaan warga bahwa kalian tidak pernah menua?”

Edward hanya terdiam mendengar pertanyaanku.

“Begini Edward, bukannya aku ingin menyinggungmu atau meragukanmu tentang keyankinanmu mengenai Renesmee. Tetapi aku sedang memikirkan beberapa hal sekaligus mengenai masa depan Renesmee. Aku ingin pendidikan Renesmee terjamin dengan memasukkannya ke sekolah, walau aku tahu dia sangat ‘cemerlang’. Tapi di sisi lain aku tahu keinginanku itu akan menimbulkan berbagai ‘masalah’. Masalah yang pertama adalah status orang tua Renesmee. Jika ia masuk sekolah pasti akan ada pertanyaan tentang siapa orang tua atau walinya. Jika kita berkata jujur bahwa kita adalah orang tua kandungya itu tidak mungkin karena kita baru menikah kurang lebih 5 bulan rentang waktu yang sangat mustahil untuk memiliki seorang putri sebesar itu. Tetapi jika kita mengakuinya sebagai anak asuh, egoku tidak mengizinkannya Edward.” Jawabku panjang lebar, suaraku pecah saat mengatakan kalimat terakhir.

Edward akhirnya mengerti maksudku. Reaksinya melunak dan kemudian menarikku ke dalam pelukannya. “Aku paham maksudmu sayang. Tapi aku tak menyangka kau sudah memikirkan hal ini saat ini. Kupikir kau akan memikirkannya beberapa bulan lagi karena mengingat euphoria kebebasan kemarin.” Bisik Edward.

“Aku sendiri juga tidak mengerti Edward, tiba-tiba saja pikiran itu muncul saat aku membantu Renesmee berdandan tadi pagi. Maafkan aku kalau aku sempat membuatmu tersinggung tadi.”

“Tak apa. Apa pun yang kau pikirkan harus kau katakan Bella.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Dialogku dengan Edward terputus karena tiba-tiba saja Renesmee berlari ke arah kami dengan tangan menelungkup.

“Daddy… Momma… lihat apa yang Nessie dapat.” Ucap Renesmee saat sampai di depan kami.

Dibukanya tangannya. Ternyata ia berhasil menangkap seekor kupu-kupu bersayap kuning putih. Kupu-kupu yang cantik.

“Woow… kupu-kupu yang cantik sayang.” Pujiku.

“Aku boleh membawanya pulang?” Tanya Renesmee kemudian.

Aku dan Edward saling pandang dan membelalakkan mata. “Bagaimana kau akan membawanya Nessie sayang?” Tanya Edward akhirnya.

“Aku akan melindunginya seperti ini Daddy.” Jawab Nessie sambil menelungkupkan tangannya lagi. “Supaya tidak lepas lagi.”

“Itu tidak mungkin sayang. Jika kau terus membawanya seperti itu, dia akan mati ketika sampai di rumah nanti. Lagipula kau akan menaruhnya dimana jika sudah kau bawa pulang?”

Kening Nessie mengernyit mendengar perkataan Edward. Aku tahu ia tidak suka mengetahui kenyataan bahwa ia tidak bisa membawa pulang kupu-kupu cantik yang ada dalam genggamannya itu. Tiba-tiba terbersit sebuah ide dalam pikiranku.

“Bagaimana kalau kita bawa suasana padang rumput ini pulang.”

Sekarang giliran Edward dan Renesmee yang saling pandang, bingung mendengar perkataanku.

“Kita ciptakan padang rumput kita sendiri. Di samping pondok, tepat di depan kamar Nessie masih ada sedikit ruang yang bisa kita manfaatkan. Bagaimana kalau ruang tersebut kita buat taman lagi. Kita buat rumah kita dikelilingi taman dengan aneka macam bunga. Momma yakin, jika bunga-bunga itu tumbuh dan bermekaran pasti akan banyak kupu-kupu yang akan datang kesana.” Jelasku.

Mata Renesmee melebar senang. Edward hanya memandangiku bangga.

Akhirnya karena hari juga sudah mulai senja bermain-main di padang rumput juga harus diakhiri. Renesmee juga sudah ‘mengikhlaskan’ kupu-kupu cantiknya untuk dilepaskan. Kami pun pulang ke rumah.

**

Setelah menidurkan Renesmee dalam boksnya aku kembali ke kamar. Kulihat Edward memandang keluar jendela kamar. Melihat bulan yang tertutup awan. Sudah dua hari ini Forks tidak turun hujan. Sebuah keanehan atau mungkin sebuah keajaiban? Aku berdiri di samping Edward ikut memandangi bulan yang tertutup awan.

“Bella, aku bangga padamu karena kau mampu memikirkan yang terbaik untuk Renesmee. Aku sedikit iri, karena selama ini aku yang selalu melakukakannya. Untuk membahagiakanmu.” Ucap Edward sambil berpaling ke arahku setelah cukup lama kami bediri dalam diam.

“Naluri seorang ibu Edward.” Jawabku sambil tersenyum.

Edward meraih tanganku kemudian memandangiku. Kubalas tatapannya. Kupandangi mata emasnya berharap aku bisa membaca apa maksud Edward memperlakukanku seperti ini malam ini. Tapi seperti biasa, hanya kedalaman jiwa Edward yang tanpa batas yang bisa kulihat.

“Bella, saat aku mengembalikan mobil ke rumah besar tadi aku sempat bertemu dengan Alice dan Carlisle.” Ucap Edward setelah keheningan yang cukup lama.

“Lalu, apa yang kalian bicarakan? Alice pasti sudah ‘melihat’ apa yang kukhawatirkan.” Tanyaku berspekulasi.

“Ya, mereka memang ingin menanyakan hal itu kepadaku. Tapi aku menolak untuk membicarakannya jika tidak bersamamu.” Jawab Edward sambil berpaling menatap keluar jendela lagi. “Oleh karena itu mereka ingin bertemu dengan kita besok untuk membicarakannya lebih jauh.” Sambung Edward.

Aku terdiam cukup lama. Menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku juga melibatkan Carlisle, Esme, Alice dan lainnya dalam pengambilan keputusan ini. Sebenarnya aku sudah tidak ingin melibatkan siapapun dalam keputusan keluargaku. Aku sudah cukup merepotkan mereka selama ini. Selain itu aku ingin, aku dan Edward lebih mandiri dalam mengurus keluarga kami. Tapi kemudian aku sadar, keluargaku bukan keluarga normal, pengambilan keputusan harus dipertimbangkan dari berbagai sisi. Jika salah mengambil keputusan, bukan hanya keluarga kecilku yang terancam tapi juga semua keluarga, Alice, Carlisle, Esme, Emmet, Rosalie, dan Jasper. Aku begidik memikirkan hal itu. Sebuah fakta baru terpampang jelas di depan mataku. Keluarga besar kami, keluarga Cullen, bagaikan satu tubuh. Jika satu bermasalah semuanya akan terkena imbasnya. Lagipula setelah kupikir-pikir, aku memang butuh pendapat Carlisle. Pengalamannya berabad-abad pasti bisa memberikan jalan keluar yang baik. Ditambah lagi Alice yang bisa meramalkan masa depan.

“Jam berapa kita besok menemui mereka?” Tanyaku pada Edward setelah berpikir.

“Mungkin setelah tengah hari. Karena pagi harinya Carlisle harus ke rumah sakit. Tapi terserah kau saja.”

“Aku pikir kita kesanannya sore hari saja. Aku besok ingin mengajak Renesmee berbelanja bunga.”

“Baiklah terserah kau saja.”

Setelah percakapan singkat itu tidak ada lagi yang kami bicarakan. Aku melirik ke arah tempat tidur. Rasanya ingin sekali berbaring disana dan memejamkan mata, merasakan kembali sensasi bermimpi seperti dulu. Melupakan sejenak permasalahan yang terjadi hari ini dan kembali memikirkannya esok setelah pagi datang menjelang. Tapi aku tahu aku tak akan pernah lagi bisa merasakannya. Aku sudah menjadi makhluk yang berbeda, makhluk yang tak akan pernah membutuhkan tidur, dan tak bisa merasakan bagaimana menyenangkannya bermimpi.

Aku pun keluar kamar untuk menghibur diri. Rasanya terlalu menyesakkan jika terus berada di dalam kamar tetapi Edward mengacuhkanku. Sepertinya aku telah merusak kebahagiaannya hari ini. Baru saja terbebas dari satu masalah, tapi masalah lain sudah muncul lagi. Dan masalah itu, aku yang memunculkannya. Ironis memang. Kemarin malam aku mampu membuatnya tertawa dengan kenyataan bahwa akhirnya ia bisa membaca pikiranku dan mengetahui betapa besar cintaku padanya. Kemudian dilanjutkan dengan perayaan yang mungkin tak akan bisa kami lupakan selamanya. Tapi malam ini, aku telah membuatnya bersedih, menyingkirkan senyuman dari wajahnya. Senyuman favorit yang kumiliki.

Kuputuskan untuk menghibur diriku dengan memandangi Renesmee tidur. Wajah Renesmee terlihat sangat kelelahan namun damai. Rambut ikalnya kusut dan menyebar di sekeliling wajahnya. Aku penasaran apakah malam ini dia bermimpi. Kutempelkan tangan mungilnya di pipiku. Awalnya hanya kabut putih yang terlihat, tetapi kemudian berubah menjadi berwarna-warni. Aku sedikit terkejut melihatnya. Renesmee bermimpi. Ia memimpikan aku dan Edward bermain-main dan berlari-lari bersamanya di padang rumput. Mengejar kupu-kupu dan tertawa bersama. Hal yang aku dan Edward tak lakukan siang tadi. Rupanya di balik senyum riangnya sepulang jalan-jalan tadi, Renesmee menyimpan kekecewaan. Ia kecewa karena aku dan Edward tak mau bermain bersamanya. Kenyataan ini semakin membuatku sakit. Aku telah mengecewakan dua orang terpenting dalam hidupku hari ini. Andai saja aku masih bisa menangis.

Sosok yang Layak untuk di-’klaim’ sebagai Warga Negara Malaysia

Senin, Desember 27, 2010 0 Comments
Sadar atau tidak sadar, kita harus mengakui bahwa bangsa kita adalah bangsa yang perlu belajar banyak ke negeri jiran Malaysia. Dengan kehebatannya, Minggu, 26 desember 2010, tim Harimau Malaya berhasil mengalahkan tim Garuda 3-0. Sebuah prestasi yang cukup gemilang. Ditambah lagi, bangsa kita seringkali kurang memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, termasuk diantaranya sumber daya manusia.

Ulasan berikut memberikan sedikit saran kepada Malaysia untuk merekrut tenaga-tenaga terbaik dari Indonesia untuk kemajuan Malaysia.

Sebelumnya perlu diketahui, Malaysia pernah mencoba merekrut Irfan Bachdim sebagai warga negara Malaysia. Menurut hemat kami, upaya Malaysia merekrut Irfan Bachdim sama sekali kurang tepat. Irfan Bachdim hanyalah pemain sepak bola biasa, yang tentunya jauh dari harapan Malaysia yang menginginkan tenaga-tenaga terbaik bagi kemajuan Malaysia. Adalah sebuah kerugian besar jika Malaysia mengincar Irfan Bachdim, apalagi Bambang Pamungkas. Nama-nama ini sangat tidak layak jika harus dijadikan tenaga-tenaga terbaik bagi kejayaan Kerajaan Malaysia.

Lantas, siapakah orang-orang yang layak untuk dinaturalisasi oleh Malaysia sehingga bisa dijadikan sebagai sumber daya terbaik Malaysia dalam mencapai kemakmuran?
Ini dia diantaranya :
1. Gayus Halomoan Tambunan
Pria yang akrab disapa dengan Mas Gayus ini merupakan seorang pemuda dengan kecakapan luar biasa. Di usianya yang masih 30 tahun, dia sudah bisa mencapai golongan/ruang III/a dan bisa meraup kekayaan hingga mencapai 25 milliar. Ide-ide kreatifnya menghantarkannya menjadi miliarder muda di Indonesia. Sayang sekali, Indonesia bukanlah tempat yang sesuai bagi orang dengan kemampuan luar biasa sekelas Mas Gayus. Malaysia-lah tempat yang paling sesuai baginya. Mas Gayus merupakan sosok yang bisa membawa Malaysia menuju kemakmuran. Ide-ide cemerlangnya memungkinkan untuk menjadikan pertumbuhan ekonomi Malaysia di tahun 2012 bisa mencapai 70% dan cadangan devisa Malaysia bisa meningkat tajam pada 2012 mencapai 133%. Keahliannya dalam memperoleh berbagai dana keuangan dam negosiasinya dengan berbagai pihak memungkinkan Malaysia bisa meningkatkan kerja sama bilateral, regional, maupun internasional. Keahlian Mas Gayus dalam bernegosiasi dengan berbagai pihak, menjadikannya sangat layak untuk dapatnya segera dinaturalisasi sebagai warga negara Malaysia dan dapat diangkat sebagai menteri keuangan di kementerian keuangan Malaysia. Insya Allah Malaysia akan menjadi negara yang semakin sentausa.

2. Nurdin Halid
Sosok Nurdin Halid adalah sosok yang wajib dinaturalisasi oleh Malaysia. Kecerdasan luar biasanya dalam mengelola persepakbolaan Indonesia dan usaha gula di Indonesia, tidak dapat diikuti oleh pemikiran orang-orang Indonesia sehingga menjadikannya bersalah dalam kasus gula beberapa tahun silam. Sosok pria multitalenta seperti inilah yang sangat layak untuk dinaturalisasi sebagai warga negara Malaysia dan segera ditempatkan sebagai kepala badan urusan logistik Malaysia atau kepala badan penyaluran gula Malaysia. Ekspor gula Malaysia ke Amerika Serikat bisa melonjak hingga 450% pada tahun 2011 dan Malaysia bisa mencapai swasembada pangan tahun ini juga ( 2010 ) bila merekrut Nurdin Halid, sang pria multitalenta.

3. Ferry Idham Henyansyah ( Rian )
Sebagai negara dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar, Malaysia tentunya juga akan mengalami masalah kependudukan. Figur paling handal yang mampu menangani kasus ini adalah seorang pria brillian yang bernama Ferry Idham Henyansyah atau yang akrab dipanggil Rian. Pria ini mempunyai reputasi sangat baik dalam mengendalikan jumlah penduduk di suatu tempat. Sayang sekali, Indonesia sebagai negara yang kalah maju dengan Malaysia, membuat Rian tidak betah. Rian sangat berminat untuk menjadi warga negara dengan lagu kebangsaan Negaraku ini. Posisi yang paling baik baginya adalah menteri kependudukan. Masalah kependudukan dan pertumbuhan penduduk di Malaysia bisa diatasi dengan sangat baik. Pihak pemerintah bisa memerintahkan Rian mengatur laju pertumbuhan penduduk dengan sangat cepat, apakah dibuat -60% ( minus 60 persen ), 0%, atau bahkan cuma 1,5%. Bahkan kalau perlu, piramida penduduk Malaysia yang saat ini merupakan piramida penduduk muda bisa diubah menjadi piramida penduduk tua dalam waktu kurang dari 20 hari. Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi kinerja kenegaraan Malaysia.

4. Arthalita Suryani
Arthalita Suryani atau yang akrab dipanggil Mbak Ayin adalah seorang arsitek handal. Saking handalnya, Mbak Ayin mampu mendesain sebuah ruangan supermewah di dalam penjara paling angker di Indonesia. Belum pernah ada satu arsitekpun di muka bumi ini pada periode ini yang mempunyai keahlian sekaliber Mbak Ayin. Malaysia hendaknya tahu dan segera menaturalisasi Mbak Ayin ini supaya segera bisa menjadi warganegara Malaysia. Mbak Ayin menawarkan konsep penjara yang berkemanusiaan sehingga sangat layak untuk diangkat menjadi menteri hukum dan HAM di Malaysia. Penjara-penjara di Malaysia akan disulap menjadi sebuah ruangan yang begitu indah sekelas hotel bintang 40 atau dengan nuansa cottage paling mahal di kepulauan Hawaii. Gebrakan ini sesuai dengan langkah Malaysia untuk menjadi pioner dalam penegakan HAM di Malaysia.

5. Edy Tansil
Edy Tansil, mempunyai kemampuan mengatur keuangan hingga triliunan rupiah. Di masa orde baru, Edy Tansil sudah membuktikan kemampuannya. Malaysia yang menginginkan perencanaan dan pertumbuhan perekonomian yang kokoh, harus dipimpin oleh tenaga yang mempunyai visi yang jelas pula. Adalah sangat layak apabila Edy Tansil dinaturalisasi Malaysia dan diangkat sebagai kepala badan perencanaan pembangunan nasional Malaysia. Perekonomian Malaysia akan semakin mantap dan mampu meningkatkan GDP dan GNP hingga melonjak sampai dengan 765% pada tahun 2011. Malaysia dalam waktu singkat akan menjadi macan asia baru yang siap menerkam cina dan menjadi pesaing terberat amerika serikat. Bahkan saking mantapnya perekonomian Malaysia apabila dipimpin Edy Tansil, gelandangan yang mempunyai masa menggelandang 0 tahun mempunyai tunjangan negara minimal RM 12.000. setiap masa menggelandang 1 bulan direncanakan akan dilakukan kenaikan tunjangan berkala sebesar 85%. Dengan demikian dipastikan, Malaysia akan menjadi negara paling makmur di dunia.

6. Anggodo Widjojo dan Anggoro Widjojo
Pasangan kakak beradik ini sangat layak dinaturalisasi sebagai warga negara Malaysia sebagai menteri ekonomi. Kondisi ini sangat cocok mengingat suku bangsa terbesar kedua di Malaysia adalah keturunan Cina. Sektor perbankan Malaysia akan menjadi sektor perbankan paling sehat di dunia dan di akhirat, mengalahkan sektor perbankan di Swiss. Dengan dibawah kawalan kakak beradik ini, kiblat perbankan dunia akan dialihkan ke Malaysia.

Demikian beberapa nama yang layak dinaturalisasi oleh Malaysia sebagai warga negara dan segera diberikan jabatan seperti yang diharapkan. Adalah kebodohan dan ketololan yang nyata apabila Malaysia tidak segera melakukannya. Cukuplah Indonesia yang tidak bisa memanfaatkan suber daya terbaik ini. Kini saatnya Malaysia merekrtutnya untuk kejayaan Kerajaan Malaysia. :’)

NB : Postingan ini hanya untuk senang-senang belaka. Untuk meregangkan saraf-saraf yang tegang akibat kekalahan Indonesia dari Malaysia… =))

Selasa, 21 Desember 2010

WHEN THE STORY CONTINUED

Selasa, Desember 21, 2010 0 Comments
CHAPT 2 : PADANG RUMPUT

Perjalanan menuju padang rumput sangat menyenangkan. Dalam pangkuanku sepanjang jalan Nessie bernyanyi-nyanyi, berceloteh menanyakan nama-nama benda yang belum ia ketahui. Kulihat wajah Edward, tak sedetik pun senyuman lepas dari bibirnya. Hari ini benar-benar akan jadi hari paling membahagiakan.

Tak lama kami sampai di tepi hutan. Aku termenung dalam mobil mengingat saat pertama kali Edward mengajakku kemari, mengendarai Chevy tuaku yang kini sudah menjadi monumen di depan rumah Charlie. Untuk menuju padang rumput kami harus berjalan lagi. Ingatan manusiaku yang kabur tidak bisa mengingat jalan mana yang harus diambil untuk bisa sampai ke padang rumput walau aku sudah dua kali datang kemari (yang pertama kenangan menyenangkan bersama Edward, dan yang kedua kenangan mengerikan saat bertemu Laurent dan kawanan serigala untuk pertama kalinya).

“Ayo turun.” Ucap Edward yang tidak kusadari sudah membuka pintu mobil penumpang dan berdiri di sampingku.

“Daddy… mana padang rumputnya?? Ini kan masih tepi hutan. Daddy bohong ya pada Nesssie??” perkataan Nessie membuyarkan jawabanku.

“Tidak sayang… Daddy tidak bohong padamu. Hanya saja untuk bisa mencapai padang rumput itu kita masih harus berjalan lagi ke arah sana.” Jawab Edward sambil menunjuk ke suatu arah. “Ayo..” ucap Edward kemudian sambil mengulurkan tangan.

“Nessie gak mau jalan. Nessie maunya gendong Daddy.”

“Baiklah anak Daddy yang cantik.”

Setelah Nessie naik ke punggung Edward. Kuraih tangan Edward dan keluar dari mobil. Cuaca hari ini sangat mendukung. Sedikit cerah tapi tak terlalu menyengat. Seperti pengalaman pertama, kami berjalan santai saat perjalanan menuju padang rumput. Hanya saja kini ada Nessie dan aku bukan lagi manusia yang kikuk, aku vampire sempurna, ibu dan istri dari anak dan suami yang hebat.

Setelah perjalanan yang bagiku kini terasa singkat kami sampai di tepi padang rumput. Edward sangat pas memilih hari ini untuk berkunjung. Bunga-bunga di padang rumput sedang bermekaran. Perpaduan warna merah, kuning, ungu, dan putih dari kelopak-kelopak bunga membuatku sangat terpesona. Wajah Nessie sangat berbinar-binar, ia kemudian menempelkan tangannya ke pipiku dan menyatakan “Daddy hebat Momma.. benar-benar indah.”

Edward menurunkan Nessie dari punggungnya. Dan tanpa ragu-ragu Nessie berlari ke tengah padang rumput. Ia tampak sangat cantik dikelilingi bunga-bunga yang indah seperti ini. Edward memeluk pinggangku dan berbisik, “Bagaimana menurutmu?”

“Kalau aku masih bisa menangis, mungkin aku sudah menangis dari tadi. Begitu sempurna Edward. Aku tak punya kata-kata lain selain ‘sempurna’.” Jawabku.

Aku dan Edward hanya berdiri di tepi padang rumput, memandangi Renesmee yang berlari-lari bahagia di tengah padang rumput yang indah. Kuambil kamera digital dari dalam tasku. Kupotret semua tingkah laku Nessie. Mulai dari hanya berlari-lari mengitari padang rumput sampai berlari-lari mengejar kupu-kupu berwarna-warni. Untung saja aku teringat untuk membawanya saat membantu Nessie berdandan tadi, kalau tidak aku pasti akan kehilangan momen bahagia seperti ini. Nanti akan kutunjukkan pada Alice, Rose dan yang lain.

“Momma.. Daddy… ayo sini main sama Nessie… kejar kupu-kupu cantik.” teriak Nessie dari ujung padang rumput.

“Bermain sepuaslah sayang… Daddy dan Mommy tidak mau mengganggu.” Jawab Edward.

“Edward, apa kau tahu apa yang kupikirkan sekarang.” Tanyaku tiba-tiba.

Edward menoleh dan mengernyitkan keningnya, “Apa kau bercanda Bella?? Dari dulu hingga sekarang aku tidak bisa membaca pikiranmu kecuali kau mengangkat perisaimu.”

“Aku sedang serius Edward.” Jawabku sambil menatap tajam matanya.

“Oke.. apa yang sedang kau pikirkan sekarang.”

“Coba kau lihat Renesmee sekarang.” Jawabku sambil menengok ke arah Renesmee.

“Ya aku melihatnya setiap hari. Pertumbuhannya masih cukup cepat, tapi akan terus melambat seperti yang sudah dikatakan Carlisle.”

“Bukan itu maksudku, Edward.”

“Lalu..??”

“Coba kau lihat, dengan postur tubuh seperti itu seharusnya Renesmee sudah mulai masuk sekolah. Bahkan menurutku dengan postur tubuh setinggi itu, dia seharusnya sudah ada di bangku sekolah dasar. Tapi ini..?? Masuk taman kanak-kanak saja belum.”

“Aku tahu arah pembicaraanmu Bella. Aku tahu sebagai seorang ibu kau ingin memberikan yang terbaik bagi putrimu. Aku pun sama. Tapi lihatlah Nessie.. dia begitu cemerlang.”

“Edward, aku tahu tentang itu. Tapi sadarkah kau jika ini bisa mengancam kepura-puraan yang keluargamu buat dengan sangat sempurna selama ini?”

“Apa maksudmu Bells..??” Tanya Edward dengan nada suara Edward agak sedikit meninggi.

catatan tentang "....AYAH....." dari seorang sahabat one dhee

Selasa, Desember 21, 2010 0 Comments
Biasanya, bagi seorang anak perempuan
yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya
merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah
jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan
Ibunya.

Lalu bagaimana dengan AYAH?

Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon
untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata
AYAH-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah
yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu,
bahwa sepulang AYAH bekerja dan dengan wajah lelah AYAH selalu menanyakan
pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak
perempuan kecil.. AYAH biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan
setelah AYAH mengganggapmu bisa, AYAH akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Ibu bilang : "Jangan dulu
AYAH, jangan dilepas dulu roda bantunya"

Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu
terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa AYAH dengan yakin akan membiarkanmu,
menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu
putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta
boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi AYAH akan mengatakan
dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, AYAH melakukan itu karena
AYAH tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang
selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, AYAH yang terlalu
khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di
bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan
dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu AYAH benar-benar mengkhawatirkan
keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada AYAH untuk dapat izin keluar malam, dan AYAH bersikap
tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa AYAH melakukan itu
untuk menjagamu? Karena bagi AYAH, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat
luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada AYAH, dan
masuk ke kamar sambil membanting pintu... Dan yang datang mengetok pintu
dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu....

Tahukah kamu, bahwa saat itu AYAH memejamkan
matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa AYAH sangat ingin mengikuti
keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering
menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, AYAH akan memasang
wajah paling cool sedunia.... :

AYAH sesekali menguping atau mengintip
saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati AYAH merasa
cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan
AYAH melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan
memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan AYAH adalah duduk
di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan
setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat putri kecilnya
pulang larut malam hati AYAH akan mengeras dan AYAH memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal
yang di sangat ditakuti AYAH akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya
akan segera pergi meninggalkan AYAH"

Setelah lulus SMA, AYAH akan sedikit
memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang
dilakukan AYAH itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh AYAH tetap tersenyum dan mendukungmu
saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan AYAH

Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... AYAH harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan AYAH terasa
kaku untuk memelukmu?

AYAH hanya tersenyum sambil memberi
nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal AYAH ingin sekali menangis seperti
Ibu dan memelukmu erat-erat.

Yang AYAH lakukan hanya menghapus sedikit
air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu
baik-baik ya sayang".

AYAH melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat
untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai
uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah
AYAH.

AYAH pasti berusaha keras mencari jalan
agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar
meminta boneka baru, dan AYAH tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut AYAH
adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin AYAH, Ia sangat
ingin mengatakan "Iya sayang, nanti AYAH belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu AYAH
merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang
sarjana.

AYAH adalah orang pertama yang berdiri
dan memberi tepuk tangan untukmu.

AYAH akan tersenyum dengan bangga dan
puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa,
dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang
ke rumah dan meminta izin pada AYAH untuk mengambilmu darinya.

AYAH akan sangat berhati-hati memberikan
izin..

Karena AYAH tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan
posisinya nanti.

Dan akhirnya.... Saat AYAH melihatmu
duduk di Panggung Pelaminan

bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya
pantas menggantikannya, AYAH

pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang
bahagia itu AYAH pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

AYAH menangis karena AYAH sangat berbahagia,
kemudian AYAH berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, AYAH berkata:
"Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putri kecilku yang
lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... Bahagiakanlah ia
bersama suaminya..."

Setelah itu AYAH hanya bisa menunggu
kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin
memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari
bahaya....

AYAH telah menyelesaikan tugasnya....

AYAH, Bapak, Papa atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak
kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat
dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah orang pertama yang selalu
yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal.......

**

Source

Minggu, 19 Desember 2010

WHEN THE STORY CONTINUED

Minggu, Desember 19, 2010 0 Comments
CHAPT 1 : SETELAH PERAYAAN

Cahaya mentari sedikit miring ketika masuk ke dalam kamar. Mataku menyipit karena terpaan cahanya yang berpendar ketika mngenai kulit pualam terindah. Tubuhku masih menyatu dengan tubuhnya. Sebuah perpaduan yang menyenangkan. Perayaan semalam sepertinya tak ingin kuakhiri. Namun tugasku telah menunggu. Sosok kecil di ruangan lain lebih membutuhkanku.

“Selamat pagi.” Suara selembut beledu menyapaku mesra.

“Selamat pagi.” Jawabku seraya melepaskan pelukannya, namun kudongakkan kepalaku untuk menciumnya.

“Malam yang indah.” Ucapnya di sela-sela ciuman kami yang intens.

Ya, hari ini adalah hari yang baru. Hari yang kutunggu-kutunggu. Setelah ketegangan selama berbulan-bulan. Akhirnya aku dan keluarga kecilku tak harus lagi dibayang-banyangi ketakutan. Aku, Edward, dan Renesmee.

“Apa kau masih ingin seperti ini sampai nanti siang?” sindir Edward.

Tubuhku masih bertaut padanya. Menyenangkan melihatnya sangat pas. Seolah-olah kami adalah kepingan puzzle yang diciptakan untuk saling melengkapi.

“Sebenarnya aku ingin perayaan ini tak berakhir. Tapi aku harus menyeimbangkan kehidupanku. Kau sendiri yang mengatakan bahwa aku harus bisa menyeimbangkan kehidupanku. Saat ini aku harus memerankan peranku sebagai ibu yang baik bagi putri mungilku. Nessie..” jawabku berdiplomatis.

Edward hanya tersenyum mendengar jawabanku yang diplomatis. Mungkin terdengar sangat konyol karena tak biasanya aku menjawab secara rasional. Edward terlalu mengerti bagaimana watakku. Aku yang selalu menginginkannya. Tapi kini aku ibu, ibu dari putri kecil yang sangat kucintai. Renesmee Carlie Cullen.

Aku melepaskan pelukanku dan berusaha bangkit namun Edward menahanku. Aku hanya mengerling padanya. Aku mengerti apa yang diinginkannya, dan itu sejalan dengan apa yang kuinginkan juga. Tapi aku harus konsisten. Aku berjalan menuju lemari pakaian super besar yang dirancang Alice sebagai hadiah ulang tahunku, mulai mencari-mencari pakaian yang cocok buatku. Aku sudah bisa membedakan bau denim dan jeans favoritku dengan gaun-gaun satin mengerikan yang disiapkan Alice.

Setelah berpakaian lengkap, aku kembali ke dalam kamar. Kulihat Edward masih diatas tempat tidur dengan tangan di belakang kepanya. Sepertinya ia memikirkan sesuatu. Atau ia hendak merayuku untuk kembali melanjutkan perayaan..??

“Kau sedang memikirkan apa sayang..??” tanyaku sambil lalu sambil aku merapikan dandananku di depan cermin.

“Hanya memikirkan sesuatu yang tidak penting. Ngomong-ngomong, kau cantik sekali hari ini. Mau kemana Mrs. Cullen?? “ jawab Edward sambil mengubah posisi tubuhnya, menelungkup sambil menopang dagu.

Aku berbalik berjalan Edward dan menciumnya sebentar kemudian keluar kamar.

Di luar kamar aku hanya tersenyum mengingat kejadian pagi ini. Rasanya begitu ringan. Mengingat hari-hari kemarin begitu berat. Mempertaruhkan hidup dan mati anakku. Ya anakku, yang kini menungguku di ruangan lain.

Kubuka pintu kamar Renesmee. Ia masih terlelap dalam box tidurnya. Mulut mungilnya membentuk huruf O mungil yang imut. Kakinya sedikit tertekuk karena panjan tubuh dan ukuran box tidurnya sudah hampir sama. Mungkin dalam waktu dekat aku dan Edward harus membelikan ranjang tidur untuk Nessie sebagai ganti box tidurnya ini. Aku berdiri di samping box tidurnya, memandanginya penuh cinta dan perasaan lega tak berani memegangnya karena takut membangunkannya. Aku baru hendak melangkah keluar kamar untuk membereskan ruangan-ruangan lain, tiba-tiba Nessie menggeliat bangun. Aku kembali berdiri di samping box tidurnya sambil tersenyum.

“Selamat pagi Nessie sayang..” sapaku lembut.

“Selamat pagi Momma…” jawabnya lirih sambil menguap dan mengusap-usap matanya.

Kukecup keningnya dan ia membalas mencium pipiku. Kuraih dia dan hendak mengangkatnya keluar dari box. Tapi ia malah mengelak dan menjulurkan tangan mungilnya ke pipiku. Ia menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Ia masih saja suka ‘menunjukkan’ pikirannya daripada ‘mengatakannya’ padahal jika diperhatikan perbendaharaan katanya sudah sangat lengkap. Bahkan intonasi suaranya sudah mirip anak-anak dan sudah tak ‘cadel’ lagi layaknya balita.

Nessie menanyakan apa yang akan dilakukannya pagi ini. Bersamaku dan Edward, hanya aku dan Edward. Jujur aku belum punya rencana apa pun untuk pagi ini. Tiba-tiba Edward masuk dan menjawab.. “Bagaimana kalau hari ini kita kemping ke padang rumput favorit kita.” Edward mengerling padaku dan melingkarkan tangannya ke pinggangku. Nessie mengernyit, ia tak suka jika ia tidak mengerti topik pembicaraan seperti ini. Edward hanya tersenyum mengetahuinya.

“Kau nanti akan tau Nessie sayang. Dan Daddy sangat yakin kau pasti akan menyukainya sama seperti Mommamu dulu waktu pertama kali melihatnya.” Jawab Edward sambil mengelus-elus pipi Nessie dengan tangannya yang lain.

Mata Nessie melebar penasaran tapi tertarik. Kucubit pinggang Edward karena berani-beraninya dia menggodaku di depan Nessie. Kalau aku bukan vampire, pasti wajahku sekarang sudah bersemu merah karena saking malunya. Edward balas mencubitku. Nessie tertawa dari dalam boxnya melihat tingkah kami yang saling balas mencubit.

“Sudah-sudah..” kata Edward akhirnya. “Segera bersiap. Kita segera berangkat. Dandan yang cantik ya Nessie sayang. Daddy mau ke rumah grand dulu untuk mengambil mobil”

“Okke Daddy..” jawab Nessie sangat bersemangat.

“Sampaikan salam kami kepada mereka semua.” Teriakku menambahkan.

***

wait CHAPT 2 : PADANG RUMPUT

Kamis, 09 Desember 2010

In Memoriam Kyai Sholihin Noer

Kamis, Desember 09, 2010 0 Comments

Sore tadi sekitar jam 17.00 saat aku membuka akun 'facebook'ku, aku membaca sebuah status dari kakak sepupuku.

"buat guruku ngaji K.H. Sholihin Noer, smoga amal ibadah diterima ALLAH SWT.thanks for everything."

Sontak aku kaget, dalam benakku langsung berpikiran yang tidak-tidak. Segera saja kukomen status itu..

aku : "yai Sholihin jagalan Mz..??"

kakak sepupu : "iya"

aku : "orangnya sedo (meninggal) mas..??"

kakak sepupu : "iyo fit... hehehe..."

aku : " innalillahi wa inna ilaihi roji'un... kapan mas..??"

kakak sepupu : "jam 4 sore"

Innalillah... belum percaya dengan kabar yang aku terima, aku pun mengirim sms ke ayahku untuk memastikan kabar tersebut. Ternyata kabar yang tersebut benar. Ingatanku pun langsung melayang ke waktu 10 tahun yang lalu.

**

Sore itu aku sedang santai-santai di teras rumah. Saat itu aku masih kelas 4 SD *lupa-lupa inget*. Biasanya anak seumuran itu harusnya sudah siap-siap untuk berangkat mengaji ke TPQ, tapi aku malah santai-santai. Maklum saja, saat itu aku sudah menyelesaikan TPQku, aku sudah lulus. Seharusnya setelah TPQ itu aku melanjutkan ke tingkat TQA, tapi di TQA tenaga pengajarnya kurang dan minat teman-teman untuk melanjutkan jadi menurun (maklum, teman-teman seangkatanku mengaji sudah kelas 5-6 SD atau SMP yang disibukkan dengan kegiatan les). Alhasil aku pun ikut-ikutan ogah masuk ngaji.

Melihat aku nganggur aja sementara anak-anak lain ngaji, ayahku tiba-tiba nyeletuk..

Ayah : "Nduk, kamu mau gak ngaji di tempatnya Kyai Sholihin?"

Aku : "Dimana itu yah..??"

Ayah : "Di Jagalan."

Aku : "Ngajinya gimana itu..?"

Ayah : "Ya ngaji Al Qur'an. Tapi tajwidnya harus bener."

Singkat cerita, karena merasa pemahaman dan penguasaan tajwidku dari TPQku dulu sudah mencukupi aku pun mengiyakan tawaran itu.

Akhirnya ayahku mengantarku ke kediaman Kyai Sholihin, mendaftarkanku mengaji disana. Aku sih diem aja karena itu perbincangan 'orang-orang tua'. Setelah perbicangan yang lumayan panjang, aku bisa mulai mengaji keesokan sorenya. Waktunya ba'da ashar.

Keesokan sorenya, dengan sedikit PD sedikit takut, aku berangkat ngaji. Sebagai anak baru yang gak tau apa-apa dan gak kenal siapa-siapa (dan gak berani ngapa-ngapain juga) akhirnya aku cuma diem ngeliat dan ngikutin mbak-mbak yang udah ada disitu. Gak lama kemudian, Kyai Sholihin datang. Satu persatu santri ngaji dan disimak oleh beliau. "Ah cuma begitu aja ngajinya? cuma membaca Al Quran. aku pasti bisa deh..!" pikirku. Setelah lama menunggu, koq aku gak maju-maju ya..?? Ternyata aku duduk di tempat yang salah. Harusnya aku duduk di agak depan, karena di belakang itu tempatnya mbak-mbak yang mondok disitu, dan mbak-mbak pondok itu ngajinya setelah anak-anak 'TPQ' selesai. Alhasil majulah aku.. Di depanku masih ada 2 orang lagi yang masih belum mengaji. Aku siap-siap dan nunggu. Tak berapa lama akhirnya tiba giliranku...

Kebiasaanku sebelum membaca Al Qur'an, aku pasti membaca surat Al Fatihah dulu. Karena udah 'hafal' kali ya..makanya aku bacanya sekenanya aja tanpa buka Al Quran (dan dulu waktu di TPQ, boleh-boleh aja). Setelah membaca Al Fatihah itu niatku mau neruskan baca surat Al Baqarah, tapi Kyai Sholihin menyelaku dan menyuruhku mengulangi membaca surat Al Fatihah. Aku manut saja, aku ulang baca surat Al Fatihah itu tadi dengan cara membaca yang sama. Tapi yang bikin aku kaget, Kyai Sholihin ngetok meja di depanku dengan kayu panjang, awalnya aku cuek aja, tapi lama kelamaan jadi takut juga gara-gara ngetoknya tambah keras. Akhirnya aku sadar kalau ketokan itu tanda kalau cara bacaku salah, tapi karena aku gak tau dimana salahku aku lanjut aja bacanya. Mungkin karena gak sabar, Kyai Sholihin nyuruh aku buka Al Quran dan membacanya. Aku buka Al Quranku dan membacanya, tapi meskipun udah buka Al Quran cara bacaku tetep aja sama dan alhasil ketokan Kyai Sholihin pun gak berkurang dan makin keras. Oh God, aku udah mulai putus asa dan mau nangis saking terus-menerus salah dan gak bener-bener.. Tapi Kyai Sholihin masih mau nguji aku.. :( Mungkin karena denger suaraku yang mulai serak dan tanganku yang ngusap-ngusap mata berkali-kali (sumpah waktu itu udah nyesek banget sampe mau nangis) akhirnya kyai Sholihin nyuruh aku mundur (pulang maksudnya)

Sampe di rumah aku gak ngomong apa-apa. Langsung ngelancarin 'mogok' ngaji. Aku gak mau ngaji lagi... Sakit ati, sama masih takut.. Pas ditanya kenapa, aku gak cuma jawab "pokoknya gak mau ngaji lagi..takut."

Aneh bin ajaibnya, ayahku gak marah.. biasanya kalo aku 'bolos' gitu beliau langsung nyap-nyap (marah2+ngomel2 maksudnya). Akhirnya suatu siang, kalo gak salah pas hari Minggu.. kakakku nanya-nanya alasan kenapa aku 'mogok' ngaji.. Awalnya siih masih sensi gak mau cerita, tapi setelah dibujuk-bujuk akhirnya aku mau cerita. Ending kisahnya pun bisa kutebak, nih kakak mesti ngrayu aku biar mau ngaji lagi, dan ternyata bener.

Aku : "wes pokoknya aku gak mau ngaji lagi. Takut. Tiap salah diketok pake kayu."

Kakak : "halah, gitu aja loh.."

Aku : "emoh pokok'e..." *edisi ngotot*

Kakak : "wes gini wes.. ntar sore berangkat'o ngaji. tak anter. kalo perlu tak tungguin sampe selesai."

Aku : "wah gak mau... malu"

Kakak : "lha tadi katanya takut..??"

Aku : "aku takutnya sama Kyai Sholihin... kalo aku ngaji'e masih salah terus diketok2 terus gimana..?? sampeyan gak ngerti gimana rasanya siih..??"

Kakak : "ya udah.. gimana kalo gini. setiap kamu salah, setiap kamu diketok, aq kasih uang seratus. Jadi kalo diketok 5x dapet 500, kalo 10x dapet 1000 dan seterusnya"

yaahh, namanya juga anak kelas 4 SD mau-mau aja tuh diakali yang begituan... alhasil sore harinya berangkatlah aku ngaji diaterin kakakku itu dan ditungguin pula, padahal aq udah bilang gak mau.. tapi yasudahlah dianya yang mau koq...

Proses ngaji berjalan kayak pertama kali aku masuk... Tapi ajaibnya hari itu bacaanku bener semua..gak diketok sama sekali. Di satu sisi aku seneng karena itu berarti bacaanku udah bener, tapi di sisi yang lain aku sedih karena aku gak jadi dapet duit... Tapi yasudahlah, uang bukan segalanya *cieee*

Mulai saat itu aku rajin ngaji. Tajwid-tajwid saat baca Al Quran juga semakin baik. Banyak orang yang muji kalo bacaan Al Quranku bagus. Tapi karena waktu itu aku udah mulai naik kelas 5 dan udah mulai ada les tambahan di sekolah jadi jadwal ngaji mulai sedikit terabaikan sampe akhirnya kelas 6 dan SMP. Udah gak pernah ngaji lagi di Kyai Sholihin (tapi kalo di rumah masih sering ngaji ya...)

**

Terima kasih Kyai Sholihin... yang sudah memberikan ilmunya...

Selamat jalan...

Semoga amal ibadah Kyai diterima Allah SWT serta diberikan tempat yang layak di sisi-Nya.

Amin.