Senin, 27 Desember 2010

# fanfiction

WHEN THE STORY CONTINUED

CHAPT 3 : KEKHAWATIRAN

“Edward, apakah kau lupa dengan semua upaya yang telah kau lakukan bersama dengan keluargamu selama ini? Jawabku dengan nada setenang mungkin karena aku sadar emosi Edward sedikit terpancing akibat pertanyaanku sebelumnya.

“Apa yang kau maksud dengan kepura-puraan Bells?”

“Sudah berapa kali kalian berpindah-pindah untuk menyamarkan identitas kalian? Untuk menghindari kecurigaan warga bahwa kalian tidak pernah menua?”

Edward hanya terdiam mendengar pertanyaanku.

“Begini Edward, bukannya aku ingin menyinggungmu atau meragukanmu tentang keyankinanmu mengenai Renesmee. Tetapi aku sedang memikirkan beberapa hal sekaligus mengenai masa depan Renesmee. Aku ingin pendidikan Renesmee terjamin dengan memasukkannya ke sekolah, walau aku tahu dia sangat ‘cemerlang’. Tapi di sisi lain aku tahu keinginanku itu akan menimbulkan berbagai ‘masalah’. Masalah yang pertama adalah status orang tua Renesmee. Jika ia masuk sekolah pasti akan ada pertanyaan tentang siapa orang tua atau walinya. Jika kita berkata jujur bahwa kita adalah orang tua kandungya itu tidak mungkin karena kita baru menikah kurang lebih 5 bulan rentang waktu yang sangat mustahil untuk memiliki seorang putri sebesar itu. Tetapi jika kita mengakuinya sebagai anak asuh, egoku tidak mengizinkannya Edward.” Jawabku panjang lebar, suaraku pecah saat mengatakan kalimat terakhir.

Edward akhirnya mengerti maksudku. Reaksinya melunak dan kemudian menarikku ke dalam pelukannya. “Aku paham maksudmu sayang. Tapi aku tak menyangka kau sudah memikirkan hal ini saat ini. Kupikir kau akan memikirkannya beberapa bulan lagi karena mengingat euphoria kebebasan kemarin.” Bisik Edward.

“Aku sendiri juga tidak mengerti Edward, tiba-tiba saja pikiran itu muncul saat aku membantu Renesmee berdandan tadi pagi. Maafkan aku kalau aku sempat membuatmu tersinggung tadi.”

“Tak apa. Apa pun yang kau pikirkan harus kau katakan Bella.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Dialogku dengan Edward terputus karena tiba-tiba saja Renesmee berlari ke arah kami dengan tangan menelungkup.

“Daddy… Momma… lihat apa yang Nessie dapat.” Ucap Renesmee saat sampai di depan kami.

Dibukanya tangannya. Ternyata ia berhasil menangkap seekor kupu-kupu bersayap kuning putih. Kupu-kupu yang cantik.

“Woow… kupu-kupu yang cantik sayang.” Pujiku.

“Aku boleh membawanya pulang?” Tanya Renesmee kemudian.

Aku dan Edward saling pandang dan membelalakkan mata. “Bagaimana kau akan membawanya Nessie sayang?” Tanya Edward akhirnya.

“Aku akan melindunginya seperti ini Daddy.” Jawab Nessie sambil menelungkupkan tangannya lagi. “Supaya tidak lepas lagi.”

“Itu tidak mungkin sayang. Jika kau terus membawanya seperti itu, dia akan mati ketika sampai di rumah nanti. Lagipula kau akan menaruhnya dimana jika sudah kau bawa pulang?”

Kening Nessie mengernyit mendengar perkataan Edward. Aku tahu ia tidak suka mengetahui kenyataan bahwa ia tidak bisa membawa pulang kupu-kupu cantik yang ada dalam genggamannya itu. Tiba-tiba terbersit sebuah ide dalam pikiranku.

“Bagaimana kalau kita bawa suasana padang rumput ini pulang.”

Sekarang giliran Edward dan Renesmee yang saling pandang, bingung mendengar perkataanku.

“Kita ciptakan padang rumput kita sendiri. Di samping pondok, tepat di depan kamar Nessie masih ada sedikit ruang yang bisa kita manfaatkan. Bagaimana kalau ruang tersebut kita buat taman lagi. Kita buat rumah kita dikelilingi taman dengan aneka macam bunga. Momma yakin, jika bunga-bunga itu tumbuh dan bermekaran pasti akan banyak kupu-kupu yang akan datang kesana.” Jelasku.

Mata Renesmee melebar senang. Edward hanya memandangiku bangga.

Akhirnya karena hari juga sudah mulai senja bermain-main di padang rumput juga harus diakhiri. Renesmee juga sudah ‘mengikhlaskan’ kupu-kupu cantiknya untuk dilepaskan. Kami pun pulang ke rumah.

**

Setelah menidurkan Renesmee dalam boksnya aku kembali ke kamar. Kulihat Edward memandang keluar jendela kamar. Melihat bulan yang tertutup awan. Sudah dua hari ini Forks tidak turun hujan. Sebuah keanehan atau mungkin sebuah keajaiban? Aku berdiri di samping Edward ikut memandangi bulan yang tertutup awan.

“Bella, aku bangga padamu karena kau mampu memikirkan yang terbaik untuk Renesmee. Aku sedikit iri, karena selama ini aku yang selalu melakukakannya. Untuk membahagiakanmu.” Ucap Edward sambil berpaling ke arahku setelah cukup lama kami bediri dalam diam.

“Naluri seorang ibu Edward.” Jawabku sambil tersenyum.

Edward meraih tanganku kemudian memandangiku. Kubalas tatapannya. Kupandangi mata emasnya berharap aku bisa membaca apa maksud Edward memperlakukanku seperti ini malam ini. Tapi seperti biasa, hanya kedalaman jiwa Edward yang tanpa batas yang bisa kulihat.

“Bella, saat aku mengembalikan mobil ke rumah besar tadi aku sempat bertemu dengan Alice dan Carlisle.” Ucap Edward setelah keheningan yang cukup lama.

“Lalu, apa yang kalian bicarakan? Alice pasti sudah ‘melihat’ apa yang kukhawatirkan.” Tanyaku berspekulasi.

“Ya, mereka memang ingin menanyakan hal itu kepadaku. Tapi aku menolak untuk membicarakannya jika tidak bersamamu.” Jawab Edward sambil berpaling menatap keluar jendela lagi. “Oleh karena itu mereka ingin bertemu dengan kita besok untuk membicarakannya lebih jauh.” Sambung Edward.

Aku terdiam cukup lama. Menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku juga melibatkan Carlisle, Esme, Alice dan lainnya dalam pengambilan keputusan ini. Sebenarnya aku sudah tidak ingin melibatkan siapapun dalam keputusan keluargaku. Aku sudah cukup merepotkan mereka selama ini. Selain itu aku ingin, aku dan Edward lebih mandiri dalam mengurus keluarga kami. Tapi kemudian aku sadar, keluargaku bukan keluarga normal, pengambilan keputusan harus dipertimbangkan dari berbagai sisi. Jika salah mengambil keputusan, bukan hanya keluarga kecilku yang terancam tapi juga semua keluarga, Alice, Carlisle, Esme, Emmet, Rosalie, dan Jasper. Aku begidik memikirkan hal itu. Sebuah fakta baru terpampang jelas di depan mataku. Keluarga besar kami, keluarga Cullen, bagaikan satu tubuh. Jika satu bermasalah semuanya akan terkena imbasnya. Lagipula setelah kupikir-pikir, aku memang butuh pendapat Carlisle. Pengalamannya berabad-abad pasti bisa memberikan jalan keluar yang baik. Ditambah lagi Alice yang bisa meramalkan masa depan.

“Jam berapa kita besok menemui mereka?” Tanyaku pada Edward setelah berpikir.

“Mungkin setelah tengah hari. Karena pagi harinya Carlisle harus ke rumah sakit. Tapi terserah kau saja.”

“Aku pikir kita kesanannya sore hari saja. Aku besok ingin mengajak Renesmee berbelanja bunga.”

“Baiklah terserah kau saja.”

Setelah percakapan singkat itu tidak ada lagi yang kami bicarakan. Aku melirik ke arah tempat tidur. Rasanya ingin sekali berbaring disana dan memejamkan mata, merasakan kembali sensasi bermimpi seperti dulu. Melupakan sejenak permasalahan yang terjadi hari ini dan kembali memikirkannya esok setelah pagi datang menjelang. Tapi aku tahu aku tak akan pernah lagi bisa merasakannya. Aku sudah menjadi makhluk yang berbeda, makhluk yang tak akan pernah membutuhkan tidur, dan tak bisa merasakan bagaimana menyenangkannya bermimpi.

Aku pun keluar kamar untuk menghibur diri. Rasanya terlalu menyesakkan jika terus berada di dalam kamar tetapi Edward mengacuhkanku. Sepertinya aku telah merusak kebahagiaannya hari ini. Baru saja terbebas dari satu masalah, tapi masalah lain sudah muncul lagi. Dan masalah itu, aku yang memunculkannya. Ironis memang. Kemarin malam aku mampu membuatnya tertawa dengan kenyataan bahwa akhirnya ia bisa membaca pikiranku dan mengetahui betapa besar cintaku padanya. Kemudian dilanjutkan dengan perayaan yang mungkin tak akan bisa kami lupakan selamanya. Tapi malam ini, aku telah membuatnya bersedih, menyingkirkan senyuman dari wajahnya. Senyuman favorit yang kumiliki.

Kuputuskan untuk menghibur diriku dengan memandangi Renesmee tidur. Wajah Renesmee terlihat sangat kelelahan namun damai. Rambut ikalnya kusut dan menyebar di sekeliling wajahnya. Aku penasaran apakah malam ini dia bermimpi. Kutempelkan tangan mungilnya di pipiku. Awalnya hanya kabut putih yang terlihat, tetapi kemudian berubah menjadi berwarna-warni. Aku sedikit terkejut melihatnya. Renesmee bermimpi. Ia memimpikan aku dan Edward bermain-main dan berlari-lari bersamanya di padang rumput. Mengejar kupu-kupu dan tertawa bersama. Hal yang aku dan Edward tak lakukan siang tadi. Rupanya di balik senyum riangnya sepulang jalan-jalan tadi, Renesmee menyimpan kekecewaan. Ia kecewa karena aku dan Edward tak mau bermain bersamanya. Kenyataan ini semakin membuatku sakit. Aku telah mengecewakan dua orang terpenting dalam hidupku hari ini. Andai saja aku masih bisa menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar