Selasa, 15 Maret 2016

Gelar Akademik, Perlu Gak Sih Dicantumin??


Euummm.....
Jujur, kalau aku... pertanyaan ini udah jalan-jalan di otakku udah sejak jaman dahulu kala. Sejak jaman orang-orang (menurutku) mendadak aneh. Aneh karena masa di undangan nikahan aja gelar akademik kudu ditulis di belakang nama lengkap si mas dan mbak manten (pengantin). Padahal jaman aku kecil dulu gak ada tuh undangan nikah yang nama pengantinnya pake gelar akademik segala. Cukup nama lengkap si pengantin dan nama orang tua mereka di bawah nama si pengantin. Truss kalaupun ngeliat ada orang yang nulis namanya lengkap dengan gelar akademiknya biasanya itu di dalam surat-surat resmi instansi yang memang pada tempatnya si orang tersebut mencantumkan gelar akademiknya.

Aku jadi punya cerita.
Akhir bulan lalu aku nyoba ngelamar pekerjaan ke salah satu media milik sebuah dinas di kota aku lahir. Seperti biasa, saat ngirim surat lamaran kerja aku gak pernah nyantumin gelar akademik di belakang namaku. Di daftar riwayat hidup yang aku lampirin di surat lamaran itu juga aku gak nyantumin gelar di belakang nama. Kan yang penting NAMA LENGKAP sesuai KTP. Lha nama di KTP-ku juga gak ada gelarnya kok (dan gak berminat untuk mengurus dan mengganti nama di KTP ditambah ada gelarnya), jadi yaa aku tulis aja tanpa gelar. Masalah kesesuaian pendidikan kita dengan syarat yang diajukan oleh pihak perusahaan kan bisa tuh ditulis di kolom 'pendidikan terakhir'.

Alhamdulillah berkas lamaran yang aku kirim itu lolos seleksi administrasi dan aku dapat panggilan untuk tes selanjutnya. Minggu lalu aku jalanin tes tulis. Sesuai petunjuk di surat pemberitahuan panggilan tes, aku pun datang 30 menit sebelum waktu tes dimulai. Begitu datang aku dipersilahkan duduk di kursi yang disediain sama panitia trus disodorin absen hadir peserta. Pas ngeliat absen hadir peserta itu aku reflek ngomong (tapi dalam hati) "wiiiihhhh..... gelarnya pada ditulis semua!" dan dari list peserta itu aku jadi satu-satunya peserta tes hari itu yang gak mencantumkan gelar akademik di belakang nama lengkapnya.

Yaa kira-kira nasibku kayak gini lah kemarin.
Kayak nama yang paling bawah itu. Polos gak ada gelarnya.

Sebenernya... sebenernya.... kenapa sih orang-orang ini pada suka nulis gelar akademiknya?

Eumm... mungkin untuk sebagian orang penulisan gelar itu:

Pertama bikin bangga.
Yaa gimana nggak bangga... gelar akademik itu kan ngedapetinnya perjuangan lahir batin banget. Kuliah empat tahun (buat yang S1), ngerjain tugas-tugas yang bikin begadang, penerapan ilmu lewat program PKN/KKN, sampai klimaksnya harus ngerjain TA/skripsi yang sangat penuh lika-liku yang menguras kesabaran lahir batin, sampe akhirnya diwisuda. Jadi ya pencatunam gelar itu sebagai wujud bangga bisa melewati lika-liku perjuangan dalam proses mendapatkannya.

Kedua, mempermudah dapat kerja *)
Kalau ini emang gak bisa dipungkiri. Bahwa banyak dari lowongan pekerjaan, terutama di perusahaan-perusahaan besar dengan jabatan yang bagus itu syaratnya kebanyakan minimal sarjana S1 atau seminimal-minimalnya lagi D3. Jadi dengan gelar, orang udah bisa langsung tau status pendidikanmu dan tau kapabilitas pemikiranmu.
*) syarat dan ketentuan berlaku :p
 
Ketiga, menaikkan status, derajat dan juga gengsi. *apalagi di depan calon mertua* 
Gak bisa menampik kalau di masyarakat orang-orang dengan pendidikan yang tinggi masih dipandang punya kedudukan yang lebih tinggi dibanding orang yang pendidikannya biasa-biasa aja atau lebih rendah. Dengan pendidikan tinggi menunjukkan bahwa orang tersebut adalah orang yang pintar dan cerdas yang insya allah bakalan punya masa depan yang cerah. Yang bisa membawa dampak baik di lingkungan *kok berat yaa*. Jadinya yaa gitu deehh...

Camer : "kamu mau ngelamar anak saya, Mas? Memangnya kamu punya apa?"

Cowok : "saya punya gelar (berpendidikan tinggi) dan masa depan cerah."

#eeeaaaaaaa!!!

Tapi terus yaaa nggak perlu gitu lhoo gelar itu diumbar dimana-mana gaesss!!
Di KTP pamer gelar.
Di SIM pamer gelar.
Di undangan nikah pamer gelar juga.
Di batu nisan ntar pamer juga nggak? #eh *dilempar batu nisan*

Kalau menurutku pribadi, sekali lagi menurutku pribadi yaaa.... selama itu bukan urusan resmi, gak ada hubungannya dengan pekerjaan, dan gak mengharuskan banget buat kita untuk mencantumkan gelar di belakang nama kita gelar itu mending nggak usah aja dicantumin aja deehh gelarnya. Bikin orang nyinyir tau nggak siih. Nyinyir kalau kita itu sombong dan pamer bisa sekolah tinggi dan punya gelar.

Mending down to earth aja.
Pergunakan gelar sesuai pada tempat dan kepentingannya.
Kalau gak perlu-perlu amat nulis gelar, yaa nggak usah ditulis.
Tapi kalau emang perlu apalagi wajib yaa ditulis.

Tapii yaa semua tergantung ke pribadi masing-masing siihh..

Kalau menurut kalian gimana??

6 komentar:

  1. Hahaha, dirimu jeli juga memperhatikan fenomena gelar masyarakat kita. :D

    Aku mau cerita, di pekerjaanku beberapa waktu silam kan berhubungan sama data-data pribadi orang-orang. Nah, untuk gelar ini kami sampai membuat 4 kategori gelar, yaitu gelar depan akademik, gelar belakang akademik, gelar depan non-akademik, dan gelar belakang non-akademik.

    Kebayang kan repotnya? Padahal nama saja sudah dipisah jadi 3 bagian, nama depan, nama tengah, dan nama belakang. Padahal kalau di luar negeri katanya sih perkara gelar nggak serepot di negeri kita ini.

    Aku sendiri sih santai-santai aja kalau nulis nama tanpa gelar. :D

    BalasHapus
  2. Masalah ini memang bikin nyinyir, ya, mbak.
    Kalo aku baru menyadari baru-baru ini, pas dapet undangan pernikahan dan iya, nama mantennya ditulis lengkap dengan gelar pendidikan, hahha.. terus lagi di kantor ada orang baru yang nama di rekening banknya pake gelar pendidikan.
    Menurutku waktu yang tepat untuk mencantumkan gelar itu saat di lingkungan pendidikan dan beberapa event macem workshop itupun kalo jadi pembicara. Selebihnya lebih baik gak usah, daripada bikin orang nyinyir, :D

    BalasHapus
  3. hai girls....
    baru baca nih postingan lamamu...
    menurut aku, ini mah konstruksi.....
    wkwkwk
    penyebutan gelar dalam undangan atau di tempat lain dengan segala macam alasannya... konstruksi beeet... hahaha *mendadak julid*
    iii gemes....
    aku setuju, pencantuman gelar itu gak semua kudu dicantumkan, ada waktu dan tempat yang tepat untuk itu...
    dan setiap orang (harusnya) tahu kapan dan gimana dia mencantumkan gelarnya...
    sekian...
    hahaha

    BalasHapus
  4. Mendapat gelar itu tidak mudah lho, orangtua kita susah payah mencari rejeki demi menyekolahkan anak anaknya sampai sarjana, lalu apakah salah bila sudah sarjaana lalu memakai title itu sebagai kebanggaan kita?

    BalasHapus
  5. Komentar seperti itu hanya menunjukkan bahwa anda tidak paham makna dari gelar sarjana itu sendiri, atau mungkin anda gak punya gelar jd iri sama yg punya gelar sarjana, atau anda punya gelar sarjana juga tapi abal abal alias lulus kuliah pake nyogok sana sini. Nih saya kasih tau fungsi dari gelar sarjana :

    1. Membedakan orang yang faham ilmunya sama yang enggak, contoh (dr,S.H, dll) ketika ada seseorang yg sakit pasti berobat ke dokter kan, kalo gelar dokter gak dipake, pasti semua orang bisa buka praktek dokter ! Dan lo bayangin orang tamatan SMP kalo buka praktek dokter ksh resep obat apotik, salah obat malah bs mati tuh orang yg berobat, terus lo mau bilang "tp kan bs di buktiin pake sertifikat dokter dll", Ribet goblok, Fungsi penambahan gelar itu karena supaya mempermudah dia menyampaikan informasi kalo dia dokter, laju kan mau buka praktek didepan tempat praktek lo tempelin sertifikat dokter segala dll ribet ! Lagian ada aturan hukumnya kalo pake gelar palsu, bisa di penjara, jadi gak sembarngan orang dapat gelar.

    2. Memang benar menambahkan status harga diri, Oh ya Jelas status harga diri karena orang sarjanawan pasti punya otak yg lebih cerdas daripada cuma lulusan sekolah, gak usah ribet deh nih gw ksh perbandingan aja, coba lo curi uang 5rb dari tukang parkir yg tamatan SMA sama curi 5 rb dari seorang Sarjanawan. Secara umum dan sangat umum tukang parkir yg kecurian itu pasti marah" menggila, bisa mukul bahkan menganiaya si pencuri, sedangkan kalo sarjanawan secara umum pasti biasa aja, dan bahkan mungkin mengikhlaskan uang itu dari si pencuri, kenapa ? Karena daya fikir mereka lebih panjang mereka sarjanawan paham teori sebab akibat, mana yg perlu mana yg tidak perlu, otak mereka lebih dewasa. dan bahkan jika mereka kecurian lebih besar pun mereka tidak akan sembarangan bertindak, mereka akan melapor ke polisi dan melakukan semuanya sesuai adap dn norma yg berlaku, dan bahkan jika pencurinya ketangkap sama dia, dia tidak akan menyiksannya dan menyerahkannya kepada pihak kepolisian.

    Terus lo mau bilang (dewasa gak pandang umur dan gelar) lo salah jika mikir begitu, mungkin yg lo maksud dewasa secara harfiah ya kan ? Emg ada orang yg dewasa secara natural tapi itu sangat jarang, dan selain itu dewasa itu bisa di latih, dan salah satunya melatih kedewasaan adalah dengan kuliah hingga sarjana, nih gw kasih tau di dunia perkuliahan seseorang akan sangat terlatih untuk mandiri dimulai dr ngekos, hingga mental saat KKN dan juga menghadapi dosen pembimbing, dan sidang akhir, Jika seseorang menjalani gaya hidup mahasiswa dengan sebagaimana mestinya seperti diatas, pasti mereka akan dewasa secara fikiran dan mental !

    Namun berbeda yaa, yg msh tinggal sm ortu pas kuliah, terus dimanjaaa tiap hr, masuk kelas jarang, udah itu KKN gak kerja cuma main hp, pas skripsi beli sama orang, pas bimbingan nyogok dosen, pas lulus nyogok kampus, tau tau pake toga. Sama aja dengan lulusan anak sekolahan itu mah.


    3. Berbeda pemikiran dan gaya hidup, coba kalian yg udh sarjana beneran terus ngobrol sama teman kalian yg cuma lulusan SMA, pasti itu beda banget, lawakannya beda, bahannya beda, semuanya beda

    BalasHapus