Minggu, 08 April 2012

# curhat # Other

Saat Cinta Tak Hanya Berani Menunggu

Aku dan kamu udah jarang ketemu...
Aku dan kamu udah jarang berkomunikasi...
Dan aku nggak ada di saat kamu butuh...

Selama ini aku mikir kalau aku sudah menjadi orang 'hebat' dalam hal cecintaan karena aku sudah berani mengambil keputusan untuk setia menunggu dan setia mencinta dalam hati orang yang paling aku cintai dan aku sayangi selama hampir 10 tahun ini. Aku sudah nggak perlu bilang lagi di postingan siapa orang yang mampu ngebuat aku bertahan seperti ini. Yang pengen tau, ubek-ubek aja deh postingan-postingan lama yang ada di blog ini...

Back to topic! Tapi hari ini aku menyadari kalau cinta itu tak hanya berani setia menunggu, tapi juga harus ada tindakan nyata yang harus kau lakukan demi orang yang kau cintai dan sayangi yang selama ini nggak pernah aku lakuin :(

First time, saat nenekmu meninggal beberapa tahun yang lalu, aku nggak ada di sampingmu atau setidaknya pergi ke rumahmu untuk membantu proses penyelenggaraan jenazah. Alasan saat itu aku nggak kesana adalah hanya karena alasan sepele, karena aku takut. Padahal saat itu aku tahu kamu sedang amat sangat terpukul hingga menangis tersedu-sedu karena kehilangan nenek yang sangat kau sayangi.

Second time, saat kamu kecelakaan dan kabarnya kakimu harus dijahit. Lagi-lagi aku menjadi orang yang terakhir tahu keadaanmu. Beruntung saat itu aku keluar rumah untuk membeli makan dan ada teman-teman eks. Karang Taruna yang memberi tahu tentang keadaanmu. Saat itu kabar yang kudapat adalah kamu masih di rumah sakit, seketika aku panik dan dengan segera aku meminta tolong salah satu teman itu untuk mengantarku ke rumah sakit. Tapi sesampainya di rumah sakit aku mendapati kabar bahwa kamu sudah pulang dari rumah sakit. Lega. Ternyata luka kecelakaanmu tak separah yang dikabarkan. Sedih. Karena kamu tak pulang ke rumah orang tuamu yang tak jauh dari rumahku, tapi kamu pulang ke rumah saudaramu yang aku tak tahu dimana tempatnya. Akhirnya bersama teman yang mengantarku, aku kembali pulang.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar bahwa kamu sudah di rumah. Teman-teman Karang Taruna mengajakku untuk menjengukmu, tapi entah apa alasan yang aku gunakan saat itu, aku lupa detailnya tapi yang jelas aku menolak ajakan mereka.
Lagi-lagi aku tak ada di sampingmu saat kau butuh dukungan dan semangat...

Dan saat ini, saat ayahmu sedang sakit dan harus dirawat di rumah sakit lagi-lagi aku nggak ada disana walau hanya sekedar berbagi senyum dan semangat. Atau hanya untuk menunjukkan kepedulian dan rasa sopan santun sebagai seorang tetangga dan teman sedari kecil [yang kini sedang memendam cinta]
Maka malam ini aku memendam penyesalan, kenapa tadi siang saat seorang teman ekstrakurikulerku dulu saat SMA yang juga teman sekelasmu mengajak untuk menjenguk ayahmu aku tidak menyetujuinya. Aku lebih memilih tetap bertahan di sekolah padahal sudah tidak ada kegiatan apa-apa lagi, hanya sekedar nongkrong dan ngobrol-ngobrol aja.

Jika cinta membutuhkan perhatian, maka apa perhatian yang aku berikan untukmu..??

Aku tahu kalau kamu itu anak yang kuat dan nggak menganggap sebuah musibah itu menjadi sebuah keadaan yang membuatmu harus terpuruk. Kamu masih tetap sanggup untuk menjalani hari-harimu dengan kuliah dan bermain sepak bola bersama teman-teman SMA-mu dulu walau sekarang ayahmu sedang terbaring sakit. Aku tahu kalau kamu sempat terpuruk dan meninggalkan keduanya, tapi itu tak berlangsung lama.

Maka sekarang aku menyadari, apa yang sepatutnya aku banggakan dari kisah cinta ini..?? Jika kisah cinta ini hebat karena penantian yang sudah dilakukan selama 1 dekade, aku rasa sekarang itu semua tak ada artinya tanpa adanya tindakan nyata walau hanya sekedar memberikan semangat dan dukungan secara nyata pula.

Aku tahu bahwa jika kalian membaca postingan ini seketika kalian pasti akan berkata, sudah tahu dimana letak kesalahannya tapi mengapa masih mengeluh? Mengapa tak juga berubah dan melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan? Mengapa tak juga kunjung memberikan perhatian kepadanya?
Perlu diingat, ada beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan secara gampang, gamblang dan ringkas.

Kadang aku suka iri dengan 3 adik-adik yang aku kenal di dunia maya, Titi, Okky, dan Gita yang dimana mereka bisa berhubungan intens dengan laki-laki yang mereka sukai bahkan hingga Speak Now..
Mereka masih bisa berhubungan lancar sering ngobrol karena ada bahan obrolan berlebih, bisa tentang pelajaran, PR, ekskul, tugas sekolah, guru-guru yang killer, tempat nongkrong, atau yang lain..
Sementara aku dan dia..?? Pelajaran,tugas sekolah, PR, ekskul, guru-guru/dosen killer..?? Sudah jelas beda, karena kita memang beda sekolah. Tempat nongkrong..?? Kita beda kota, dan aku tipe orang yang kurang suka nongkrong. Jadi apa tema obrolan yang harus aku angkat untuk memulai sebuah pembicaraan secara lebih pribadi..?? Berasa ingin kembali ke jaman-jaman sekolah deh...
Selain tema pembicaraan, kebiasaannya dia dalam membalas pesan singkat pun cukup lama. Menguras emosi...

Hufftttt....
Maka pada akhirnya jika cinta ini harus berakhir sampai disini, maka aku ikhlas. Karena aku sadar seberapa jauh kapabilitasku untuk mencintaimu.
Karena kembali cinta tak hanya berani menunggu tapi juga harus berani menunjukkan...

Jika cinta ini benar-benar harus berakhir, tolong berikan aku dukungan untuk move on hingga let go. Karena setelah sekian lama stay di satu hati pasti susah untuk pergi.
Walaupun aku berkata aku ikhlas untuk melepasmu, aku masih sering menangis saat mengingatmu, bahkan dalam mimpi sekalipun. Dua kali aku bermimpi kau menikah, yaa menikah, tapi menikah dengan orang lain, dan dua kali itu pula aku menangis.

Jika cinta ini harus berakhir tanpa ada sebuah pernyataan, aku hanya ingin bilang sepuluh tahun mencintaimu bukanlah tenggang waktu yang sebentar. Sepuluh tahun menjaga hati walau sempat berpaling tetap melupakan hal yang tak mudah.
Aku tahu mungkin kamu sudah tahu ini semua, tapi sikap acuhmu membuatku jengah juga.

Jika cinta ini harus berakhir, semoga menjadi akhir yang baik.

Satu permintaanku pada Tuhan...
Jika aku dan kamu berjodoh, maka pertemukanlah, mudahkanlah, dan satukanlah kami.
Tapi jika aku dan kamu tidak berjodoh, maka jauhkanlah kami, lapangkanlah hati ini untuk menerima kenyataannya, dan berikanlah kami jodoh-jodoh yang baik.
Untuk aku dan untuk kamu...
Untuk kita...

2 komentar: