Selasa, 03 Mei 2011

# Cerpen # Karya

Berhasil

Pagi itu, di sebuah SMA yang gedhe di kota Jombang terlihat seorang cowok berkaca mata sedang asyik ngobrol dengan seorang cewek cantik di bawah pohon mangga yang rindang. Usut punya usut ternyata si cowok itu lagi PDKT ama tuh cewek, kelihatannya si cewek nggak curiga banget dengan tingkah laku lawan bicaranya. Dan ternyata setelah dilakukan penyelidikan dan pengiantaian oleh Detectip Koman dan pak-dhenya Koyoto Meri, membuahkan sebuah informasi yaitu cewek cantik itu bernama Ima sedangkan cowok yang berkacamata itu bernama Imo ( uh…. Serasi banget sich namanya jadi iri )

Teet…..teeet….teeet…..bel tanda pelajaran di mulai berbunyi, dua sejoli itu akhirnya berpisah dan menuju ke kelas mereka masing-masing. Di kelas Imo, jam pelajaran pertama sampe` ketiga adalah Kimia yang sangat di benci oleh Imo, selain pelajarannya sulit, gurunya juga killer banget. Karena tadi pagi habis dapat leci jatuh, makanya Imo jadi nggak konsen mikirin pelajaran, yang ada di pikirannya hanya bisa ketemu dan berduaan dengan pujaan hatinya Ima. Bu Yayuk yang dari tadi memperhatikan Imo senyam-senyum sendiri kayak orang gila menegur Imo.

“Imo…Imo!” panggil Bu Yayuk.

“Eh..eh…ya ada apa Bu?”

“Ada apa kamu dari tadi senyam-senyum sendiri?”

“Engg Nggak ada apa-apa Bu.”

“Imo, karena kamu dari tadi tidak memperhatikan pelajaran, sekarang kerjakan soal nomor 5 itu sekarang.”

“Mati gue soalnya susah lagi.” ucap Imo dalam hati.

“Ada apa, Mo?” tanya Bu Yayuk dengan nada killer-nya.

“Mmm nggak ada apa-apa koq Bu.” jawab Imo gagap.

“Ya, udah cepet maju !” bentak Bu Yayuk.

“Iiiiya Bu.”

Tapi belum sampai Imo melangkah 0,5 centi lebih 3,9 mili bel tanda pelajaran selesai sudah berbunyi, maka selamatlah Imo dari soal yang sulit itu.

“Lu sih Mo, udah tahu waktunya Bu Yayuk malah senyam-senyum kayak orang gila, emangnya kamu lagi mikirin apa sih Mo ?” tanya sohib deketnya Poleng pada waktu jam istrahat.

Imo hanya diam saja dan tiba-tiba menarik tangan Poleng.

“Wei…wei…Mo apaan sih main tarik aja !” teriak Poleng kesel.

“Ayo, Mbah cepetan.” jawab Imo.

“Emangnya kamu mau kemana sih ?” tanya Poleng heran.

“Udah, deh nggak usah tanya, kamu ikut apa nggak?”

“Nggak.” jawab Poleng sewot.

“Ya, udah.” jawab Imo sambil nyelonong ninggalin kelas.

Eh ternyata si Imo itu malah ngeluyur ke kelas 3 IPA 4 nemuin si Ima, setelah tengok sana tengok sini yang dicari malah nggak ada, akhirnya jurus Imo yang ke-871 yaitu bertanya kepada orang yang ada disekitarnya dipergunakan, ternyata yang dicari malah ada di warung mie pangsitnya Pak Ri, langsung aja Imo lari menuju ke sana dan siapa tahu dia bisa makan mie pangsit gratis alias ditraktir sama Ima. Eh pucuk dicinta daging pun tiba, hati Imo jadi plong ternyata emang bener sang pujaan hatinya ada di sana, langsung aja Imo menghampiri Ima yang lagi nunggu pesenan pangsitnya datang ( maklum mie pangsit Pak Ri kan paling terkenal di seluruh pelosok negeri SMA Gedhe )

“Hai Ima.” sapa Imo sambil ngos-ngosan.

“Hai juga Mo, kenapa koq napas kamu ngos-ngosan gitu ? habis lari jarak jauh ya?” tanya Ima dengan nada becanda.

“Nggak koq.” jawab Imo.

“Lalu…..” tanya Ima penasaran.

“Mmm…” Imo kehilangan kata-katanya.

“Ya udah, eh Mo, memangnya ada apa sih kamu koq nyari-nyari aku ?”

“Gini Ma, nanti pulang sekolah kamu mau nggak aku anterin pulang ?”

“Gimana Mo ya? Soalnya aku nanti dijemput.”

“Bilang aja kalo kamu mau ngerjain tugas kelompokan di rumah temen.”

“Ya deh.”

“Makasih Ma ya, nanti kamu aku tunggu di depan gerbang sekolah ok?”

“Ok!”

“Kalo gitu aku go to class dulu ya Ma, jangan lupa nanti pulang sekolah ya!”

“Iya,ya.”

Imo pun kembali ke kelas dengan hati yang berbunga-bunga dan wajah yang bereri-seri. Saat pelajaran berikutnya pun Imo juga amat sangat konsen mengikuti pelajaran, ini

bukan karena Ima tapi, karena pelajaran yang satu ini adalah pelajaran favorit Imo, yaitu matematika.

Teeeet….teeeet….teeeeet bel pulang berbunyi, Imo membereskan buku-bukunya dengan secepat kilat, Poleng yang biasanya pulang nebeng sama Imo jadi tergesa-gesa.

“Wei… Mo….tungguin…..” teriak Poleng.

“Sorry Mbah aku nggak bisa bareng sama kamu.” jawab Imo sambil terus nyelonong ke luar kelas.

“Ya, udah.” ucap Poleng lirih.

Imo pun langsung ke parkiran ambil sepeda KTP ( Kuno Tua Protol )nya, dan langsung mejeng di depan gerbang sekolah. Tak sampai 1 menit Imo menunggu, Ima sudah datang menghampirinya.

“Hai Mo!” sapa Ima.

“Hai Ma, pulang sekarang ?”

Tetapi Imo tidak mengambil jalan pulang menuju rumah Ima, Ima pun menjadi bingung.

“Mo, kita mau kemana? tanya Ima.

“Kita makan siang dulu ya! Soalnya aku udah laper banget nih!” jawab Imo.

“Ya deh, tapi kita makannya di mana, trus yang bayar siapa? Aku gak bawa uang nih!”

“Kita makan di Thalia aja gimana? Kalo masalah itu aku yang bayar deh”

Ima cuma mengangguk. Mereka berdua pun langsung menuju Thalia café disanalah Imo akan menyatakan cintanya kepada Ima. Setelah sampai di sana, mereka berdua segera mengambil tempat di tempat lesehan. Makanan pun mereka pesan. Dan sekaranglah Imo akan melaksanakan misinya.

“Mmmm, Ma…”

“Ya, ada apa Mo?”

“Sebenarnya aku ngajak kamu kesini itu selain untuk makan siang juga karena aku mau mengungkapkan rasa yang selama ini hanya aku pendam dalam hatiku.”

“Rasa apa itu Mo?”

“Rasa…..rasa cinta dan sayang sama kamu Ma.”

“Rasa cinta dan sayang sama aku?”

“Iya, kamu…..mau nggak jadi pacar aku?”

“Jadi pacar kamu? Gimana ya?”

“Ya, nggak tau kan semua keputusan sekarang sepenuhnya ada di tangan kamu, dan aku pengen kamu jawab sekarang juga.” Imo menegaskan.

Dengan diiringi lagu Arti Cintanya Ari Lasso, Imo dengan sabar menunggu jawaban dari Ima dan akhirnya……..

“Mm, Mo…”

“Ya…”

“Kayaknya aku nggak bisa deh!”

“Emm, ya udah nggak apa-apa koq, yang penting aku udah ngungkapain perasaanku dan kamu juga udah tau.”

“Bukan itu maksudku, maksudku itu aku nggak bisa nolak, kamu minta aku jadi pacar kamu.”

“Jadi kamu nerima aku jadi pacar kamu, dan mulai sekarang kita pacaran?”

“Ya, Mo…”

“Makasih ya Ma”

Mulai saat itu, Ima yang biasanya antar-jemput sekarang sudah tidak lagi, karena sudah digantikan oleh Imo. Dan hubungan mereka tampak semakin mesra, serasi, harmonis, aman, nyaman, tenteram, bahagia, dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar